BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pentingnya manajemen biaya harus diselaraskan dan
menjadi bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan, tantangannya adalah tidak
hanya untuk biaya yang lebih rendah tetapi juga untuk 'keluar berinvestasi'
pesaing pada pertumbuhan. Manajemen biaya adalah proses pengambilan keputusan
yang dilakukan untuk mengambil manfaat dari penggunaan model keuangan,
menggunakan biaya relevan dalam pembuatan keputusan dalam menganalisa faktor
pengaruh yang menetapkan keputusan harga, memanfaatkan target coasting dalam
keputusan penetapan harga.
Manajemen dari biaya terkait kegiatan dicapai dengan
mengumpulkan, menganalisis, mengevaluasi, dan pelaporan biaya informasi yang
digunakan untuk penganggaran ,memperkirakan , peramalan , dan pemantauan biaya
. Biaya adalah sumber daya yang dikorbankan atau yang tidak dapat dihindari,
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Atau dapat juga diartikan sesuatu yang
nantinya akan ditukarkan (dengan keuntungan tertentu). Biaya biasanya diukur
dalam satuan moneter, seperti dolar.
Paradigma adalah kumpulan
tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya
sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai realita – dan
akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.
Tercapainya
tujuan organisasi sebagian besar tergantung pada kemampuan manajer dari
organisasi yang bersangkutan. Paradigma baru manajemen berhubungan dengan usaha
untuk tujuan tertentu dengan jalan menggunakan sumber - sumber yang tersedia
dalam organisasi dengan cara yang sebaik mungkin.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan Masalah dalam
penulisan ini yaitu :
- Apa Saja Keterbatsan Pengukuran Kinerja Tradisional ..?
- Apa yang dimaksud Pertanggungjawaban Berdasarkan Aktivitas ..?
- Bagaimana Perhitungan Penganggaran Flexibel Berdasrkan Aktivitas
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari Penulisan Makalah ini yang
berjudul “Perencanaan dan Pengendalian Biaya Mutu dan Produktivitas “ yaitu
1. Untuk
Mengetahui Keterbatasan Pengukuran Kinerja Tradisional
2. Untuk
Mengetahui Pertanggungjawaban Berdasarkan Aktivitas
3. Untuk
mengetahui Penganggaran Flexibel Berdasarkan Aktivitas
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keterbatasan Pengukuran Kinerja Tradisional
·
Mekanisme
pengendalian, membandingkan biaya sesungguhnya dengan biaya standar.
·
Biaya
standar mendorong para manajer dan pekerja bertanggungjawab untuk mencapai
standar dan menghasilkan selisih menguntungkan namun dapat menimbulkan perilaku
yang tidak semestinya.
·
JIT
menentang penentuan insentif dalam biaya standar konvensional.
Keterbatasan pengukuran
Kinerja Traditional
Pengukuran Pengedalian
|
Keterbatasan
|
Bertentangan dengan JIT
|
-
Selisih Harga
Bahan
|
-
Mendorong Mutu
rendah dan Pembelian Besar
|
-
Pengendalian
mutu total dan Persediaan Nol
|
-
Selisih
Pemakain Barang
|
-
Memberikan
Insentif untuk mutu rendah
|
-
Pendalian mutu
total
|
-
Selisih efisiensi
tenaga Kerja
|
-
Mendorong
produksi yang berlebihan
|
-
Persediaan Nol
|
-
Selisih
Anggaran Pemeliharaan
|
-
Memberikan
insentif untuk downtime
|
-
Pemeliharaan
pencegahan total
|
-
Standar yang
dapat dicapai kini
|
-
Mendorong
ketidakefisienan
|
-
Penyempurnaan
berkesinambungan
-
Persediaan nol
-
Pengendalian
mutu nol
-
Pemeliharaan
pencegahan total
|
2.2 Akuntansi
Pertanggungjawaban Berdasarkan Aktivitas
1.
Pengertian Akuntansi
Pertanggungjawaban
Sistem akuntansi manajemen memainkan peranan yang penting dalam
mengukur tindakan dan hasil serta dalam mendefinisikan penghargaan yang akan
diterima oleh para individu. Perananan ini disebut sebagai akuntansi
pertanggungjawaban dan merupakan alat fundamental dari pengendalian manajerial.
Model akuntansi pertanggungjawabn didefinisikan dengan empat elemen inti :
1.
Menugaskan
tanggung jawab
- Membuat ukuran kinerja atau kriteria
- Mengevaluasi kinerja
- Memberikan penghargaan
Tujuan
dari model ini adalah untuk mempengaruhi perilaku sehingga inisiatif individu
dan organisasi sejalan untuk mencapai suatu tujuan umum atau berbagai tujuan.
Akuntansi manajemen memberikan tiga jenis sistem akuntansi
pertanggungjawaban : berdasarkan fungsi, berdasarkan aktivitas, dan berdasarkan
strategi.
Akuntansi
pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas, adalah sistem akuntansi
pertanggungjawaban yang dikembangkan bagi para perusahaan yang beroperasi dalam
lingkungan yang terus menerus menuntut perbaikan. Akuntansi pertanggungjawaban
berdasarkan aktivitas menempatkan tanggung jawab pada proses dan menggunakan
ukuran kinerja keuangan dan non keuangan. Pendekatan ini menekankan pada
perspektif keuangan dan proses.
Elemen
sistem pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas terdiri dari beberapa hal
sebagai berikut :
- Menugaskan tanggung jawab terfokus pada proses dan tim
-
Perbaikan
Proses, mengacu pada efisiensi proses;
-
Inovasi
Proses, mengacu pada kinerja proses;
-
Pembuatan
Proses, mengacu pada instalasi suatu proses baru secara keseluruhan
- Penetapan ukuran kinerja berorientasi pada proses, sehingga pada akhirnya standar seharusnya mencerminkan nilai tambah pada aktivitas individual dan proses.
- Pengukuran kinerja meliputi waktu, kualitas dan efisiensi.
- Pemberian penghargaan berdasarkan grup karena dicapai melalui usaha tim.
2. Konsep Informasi Akuntansi
Pertanggungjawaban
Informasi akuntansi pertanggung jawaban
adalah suatu informasi tentang aktiva, pendapatan, dan biaya yang menjadi
wewenang dan tanggung jawab unit-unit organisasi yang bertanggung jawabatas
pertanggungjawaban tertentu dalam suatu organisasi.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban terdiri atas :
1. Informasi
biaya masa lalu
Biaya yang menjadi tanggung jawab
seseorang yang digunakan dalam proses perencanaan. Contohnya : budget
2. Informasi
biaya masa datang
Biaya sesungguhnya yang menjadi tanggung
jawab seseorang dalam bentuk laporan. Contohnya : laporan pertanggungjawaban
dan laporan keuangan.
3. Manfaat Informasi Akuntansi
Pertanggungjawaban
Menurut
Mulyadi (1997:170-174)
1. Informasi akuntansi
pertanggungjawaban yang berupa informasi masa yang akan datang bermanfaat untuk
penyusunan anggaran. Proses penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan
prosespenetapan peran dalam usaha mencapai sasaran perusahaan.
2. Informasi akuntansi
pertanggungjawaban yang berupa informasi masa lalu bermanfaat sebagai :
a) Informasi
akuntansi pertanggungjawaban sebagai penilai kinerja manajer pusat
pertanggungjawaban. Informasi pertanggungjawaban merupakan informasi yang
penting dalam proses perencanaan dan manajer yang bertanggung jawab terhadap
perencanaan dan realisasinya.
b) Informasi akuntansi
pertanggungjawaban sebagai pemotivasi manajer. Informasi akuntansi akan
berdampak langsung terhadap motivasi manajer dengan mempengaruhi kemungkinan
usaha diberi penghargaan. Informasi akuntansi pertanggungjawaban juga digunakan
untuk mengukur kinerja manajer.
3. Informasi
akuntansi pertanggungjawaban memungkinkan pengelolaan aktivitas.
Dengan menyajikan informasi biaya yang
dipisahkan kedalam biaya penambah dan bukan penambah nilai, sehingga manajemen
dapat memperoleh informasi biaya bukan-penambah dan dan bukan penambah nilai
yang menggambarkan besarnya pemborosan yang sekarang dialami perusahaan dalam
memenuhi kebutuhan customer. Manajer juga dapat memperoleh biaya
bukan penambah nilai yang memungkinkan mereka memusatkan pengendalian mereka
terhadap aktivitas bukan penambah nilai, selain itu juga dapat memungkinkan
mereka melakukan penyempurnaan efisiensi aktivitas penambah nilai.
4. Informasi
akuntansi pertanggungjawaban memungkinkan pemantauan efektivitas program
pengelolaan aktivitas.
Dengan menyajikan informasi biaya yang
dipisahkan kedalam biaya penambah dan bukan penambah nilai dalam bentuk
perbandingan dari periode ke periode, yang mengakibatkan manajer dapat memantau
efektivitas program pengelolaan aktivitas dan merumuskan keputusan-keputusan
strategik.
Fungsi informasi akuntansi
pertanggungjawaban:
a. Menyiapkan
Budget untuk masing-masing responsibility center
b. Mengukur
Performa dari masing-masing responsibility center
c. Menyiapkan
skema pelaporan secara periodik yang membandingkan jumlah secara aktual dan
jumlah budget.
Secara umum fungsi dari informasi
akuntansi pertanggungjawaban secara umum adalah untuk menganalisis kinerja
manajer dan sekaligus untuk memotivasi para manajer dalam melaksanakan rencana
mereka yang dituangkan dalam anggaran mereka masing-masing.
4. Tujuan Akuntansi Pertanggungjawaban
1. Untuk
pengelompokkan dan pelaporan biaya agar
dapat dikendalikan dan diawasi secara efektif dan efisien
2. Untuk
pengendalian biaya menurut pusat pertanggungjawabanya
3. Membantu
manajemen dalam pengendalian dengan melihat penyimpangan realisasi dibandingkan
dengan anggaran yang ditetapkan
4. Alat
perencanaan untuk mengetahui kriteria-kriteria penilaian prestasi unit
usaha tertentu
5. Sebagai
tolak ukur dalam rangka penilaian kinerja (performance)
bagian-bagian yang ada dalam perusahaan
5. Klasifikasi Pusat Pertanggungjawaban
1. Pusat
Biaya (Cost Center ) Sistem pengendalian biaya atau penghasilan dengan
menghubungkan antara anggaran, tempat pertanggungjawaban dan penanggung jawab
dari tempat tersebut Tempat yang menjadi objek pertanggung-jawaban biasa
disebut pusat pertanggungjawaban
2.
Pusat Pendapatan (Revenue Center) bertanggungjawab atas timbulnya pendapatan, baik
pendapatan dari penjualan barang dagangan, barang jadi, atas jasa. Contoh
manajer penjualan bertanggungjawab terhadap penjualan yang ada pada wilayahnya.
3.
Pusat Laba (Profit Center) Pertanggungjawaban, prestasi diukur dari laba yang
dihasilkan oleh pusat tersebut. Untuk mengetahui prestasi relatif dengan pusat
laba lainnya maka penilaian pusat laba ditentukan dengan menghitung Return on
Capital Employed pusat-pusat laba tersebut
Kriteria Pusat Laba (Profit Center):
1.
Adanya tambahan pencatatan di bagian
akuntansi.
2.
Harus diberikan otoritas lebih luas
kepada penanggung jawab pusat laba.
3.
Harus diterapkan pembebanan harga
transfer.
4.
Timbulnya persaingan antarpusat.
Unit yang
dihasilkan oleh pusat laba harus diberi nilai yang seragam berdasarkan bobot
dan kualitasnya.
4.
Pusat Investasi (Investment Center) bertanggungjawab terhadap hubungan antara laba dan
seluruh investasi. Biasanya, manajemen pada pusat investasi diharapkan untuk mencapai target laba yang
ditetapkan. Manajer pusat investasi dinilai berdasarkan pada kemampuan dalam
menggunakan seluruh sumber daya yang dipercayakan kepada pusat tersebut untuk
memperoleh LABA.
- Sistem Akuntansi PertanggungJawaban Tradisional
Menurut mulyadi (1997:214), Sistem
akuntansi pertanggungjawaban tradisional adalah suatu sistem akuntansi yang
disusun sedemikian rupa sehingga pengumpulan dan pelaporan biaya dan atau
pendapatan dilakukan sesuai dengan pusat pertanggungjawaban dalam organisasi,
dengan tujuan agar dapat ditunjuk orang atau kelompok orang yang bertanggung
jawab atas penyimpangan biaya dan atau pendapatan yang dianggarkan.
Karakteristik
sistem akuntansi pertanggungjawaban :
1.
Adanya
identifikasi pusat pertanggungjawaban
2.
Standar
ditetapkan sebagai tolak ukur kinerja manajer yang bertangung jawab
3.
atas
pusat pertanggungjawaban tertentu
4.
Kinerja
manajer diukur dengan membandingkanrealisasi dengan anggaran
5.
Manajer
secara individual diberi penghargaan atau hukumanberdasarkan kebijakan
manajemen yang lebih tinggi.
Kelemahan-kelemahan
sistem akuntansi tradisional:
1. Mengabaikan
biaya yang tidak memberikan nilai tambah
2. Memberikan
perhatian lebih terhadap biaya tenaga kerja
3. Memfokuskan
pada kondisi ekstern
4. Memberikan
perhatian lebih terhadap ukuran keuangan
5. Perhitungan
selisih mendorong tingkah laku negatif
Asumsi-asumsi
sistem akuntansi pertanggungjawaban tradisional:
1. Pengelolaan
Berdasarkan Penyimpangan
Dengan melihat penyimapangan yang
terjadi dalam perusahaan, maka manajemen akan memusatkan perhatiaanya terhadap
perbaikan ketidakefisienan yang terjadi. Pelaporan secara periodik yang
disajikan oleh akuntansi pertanggungjawaban kepada manajer yang
bertanggungjawab sangat cocok digunakan untuk menarik perhatian mereka kearah
bidang yang terdapat penyimpangan didalamnya dan segera melakukan perbaikan.
2. Pengelolaan
berdasarkan tujuan (Manajemen By Objective)
Dalam MBO manajer atas maupun bawah
bersama-sama menetapkan sasaran bersama yang dinyatakan dalam hasil atau
sasaranyang diharapkan dan secara bersama-sama memantau kemajuan dan pencapaian
sasaran tersebut.
3. Struktur
pertanggungjawaban sesuai dengan hierarki organisasi
Akuntansi pertanggungjawaban tradisional
menganggap bahwa pengendalian organisasi dapat meningkat dengan cara
menciptakan jaringan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dengan struktur
organisasi formal perusahaan.
4. Manajer
bawahnya tersedia untuk menerima tanggung jawabyang dibebankan kepada mereka
melalui hierarki organisasi
Hal yang terpenting dalam menentukan
agar sistem akuntansi pertanggungjawaban ini berhasil adalah kesediaan para
manajer pusat untuk menerima tanggung jawab yang diberikan kepada mereka. Untuk
mendorong penerimaan tanggung jawab, kultur organisasi harus memungkinkan para
manajer untuk kadang-kadang gagal dalam tugas mereka, tanpa harus takut untuk
menerima hukuman atas kegagalan mereka tersebut.
5. Sistem
akuntansi pertanggungjawaban mendorong kerjasama bukan kompetisi
Sistem akuntansi pertanggungjawaban
memberikan kesempatan kepada manajer untuk merumuskan sasaran mereka sendiri
dan membuat keputusan dalam rangka tenggung jawab yanng didelegasikan oleh
manajer di atasnya, maka hal ini akan meningkatkan kesetiaan harga diri dan
rasa penting dalam diri manajer.
5. Activity-Based Responsibility Accounting
System
Activity-based responsibility adalah suatu sistem akuntansi yang
disusun sedemikian rupa sehingga pengumpulan dan pelaporan biaya dilakukan
menurut aktivitas penambah dan bukan penambah nilai untuk memungkinkan
manajemen merencanakan pengelolaan aktivitas dan memantau hasil perbaikan
bersinambungan atas berbagai aktivitas untuk pembuatan produk/ penyerahan jasa.
a. Aktivitas
penambah nilai
Aktivitas penambahan nilai adalah aktivitas
yang perlu dilakukan untuk menjaga agar perusahaan tetap bertahan dan bekembang
dalam bisnis yang dijalankan.
Klasifikasi
aktivitas penambah nilai karena memenuhi 3 kondisi :
1.
Aktivitas
yang mampu menghasilkan perubahan suatu keadaan
2.
Perubuhan
sifat tersebut tidak dapat dicapai oleh aktivitas sebelumnya
3.
Aktivitas
tersebut memungkinkan aktivitas lain dapat dilaksanakan
b. Aktivitas
Bukan Penambah Nilai
Aktivitas bukan penambah nilai adalah
aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah dan merupakanaktivitas yang tidak
perlu dilakukan karena tidak membuat perusahaan dapat bertahan atau berkembang
dalam bisnisnya, Dalam perusahaan manufaktur, terdapat 5 golongan aktivitas
bukan penambah nilai yaitu :
1.
Pembuatan
skedul
Pembuatan waktu dan sumber daya untuk
menentukan kapan berbagai produk yang berbeda dimasukkan dan bagaimana berbagai
produk tersebut diproduksi.
2.
Pemindahan
Aktivitas yang menggunakan waktu dan
sumber daya untuk memindahkan bahan baku, produk dalam proses dan tranfer
produk jadi dari satu departemen ke departemen lainnya.
3.
Penantian
Aktivitas yang didalamnya bahan baku dan
produk dalam proses menggunakan waktu dan sumber daya untuk menunggu proses
berikutnya.
4.
Inspeksi
Aktivitas yang mengkonsumsi waktu dan
sumber daya untuk menjamin produk yang dihasilkan sesuai dengan mutu yang sudah
ditetapkan.
5.
Penyimpanan
Aktivitas yang menggunakan waktu dan
sumber daya selama produk dan bahan baku disimpan sebagai bahan sediaan.
6. Penggunaan Informasi Akuntansi
PertanggungJawaban
Sistem akuntansi pertanggungjawaban
tradisional mengarahkanperhatian manajer pada pengendalian biaya.
1. Sistem
pelaporan biaya dalam akuntansi pertanggungjawaban Tradisional
Pelaporan dalam sistem akuntansi
pertanggungjawaban harus menggunakan klasifikasi dan kode rekening yang sesuai
dengan konsep pertanggungjawaban dalam organisasi. Dengan kata lain bahwa
klasifikasi kode rekening harus disusun sedemikian rupa sehingga selain mampu
menunjukkan jenis biaya atau penghasilan yang terjadi, memungkinkan pengumpulan
biaya terkendali dan tak terkendali pada masing-masing pusat pertanggungjawaban
atau kontribusi penghasilan masing-masing produk dan dapat mengidentifikasikan
pula kode tingkat pimpinan manajemen yang bertanggung jawab. Posisi angka dalam
kode rekening dikelompokan menjadi 2 yaitu :
1.
Menunjukkan
tempat terjadinya biaya
2.
Menunjukkan
kode jenis biaya dan penghasilan yang digolongkan sesuai dengan objek
pengeluaran dan penerimaan.
Jenis
laporan biaya yang dihasilkan oleh akuntansi biaya dalam sistem akuntansi
pertanggungjawaban tradisional meliputi:
- Laporan Pertanggungjawaban (resposibility cost report)
Bertujuan agar manajer melakukan pengelolaan biaya dengan
cara membandingkan biaya yang direalisasikan dengan biaya yang dinggarkan.
- Laporan Biaya Produksi (cost of produstion report)
Bertujuan untuk menyajikan laporan biaya produksi untuk
analisis biaya produk yang dihasilkan perusahaan tiap bulan.
Untuk
memaksimumkan keuntungan laporan pertanggungjawaban harus memenuhi 4 kriteria,
yaitu :
1.
Tepat
Waktu
2.
Diterbitkan
secara periodik dan konsisten
3.
Mudah
dimengerti
4.
Membandingkan
antara budget dan jumlah aktual
Format umum
laporan pertanggungjawaban:
- Nomor Kode akun biaya
- Jenis biaya atau pusat pertanggungjawaban
- Realisasi bulan ini
- Anggaran biaya bulan ini
- Penyimpangan biaya bulan ini
- Realisai biaya sampai dengan bulan ini
- Anggaran biaya sampai dengan bulan ini
- Penyimpangan biaya sampai dengan bulan ini
2. Sistem
pengelolaan akuntansi pertanggungjawaban dalam akuntansi pertanggungjawaban
tradisional
Oleh
karena biaya yang terjadi dikumpulkan untuk setiap tingkat manajemen, maka
biaya-biaya harus digolongkan dan diberi kode sesuai dengan tingkat manajemen
yang berada dalam struktur organisasi.
1.
Pengumpulan
biaya untuk laporan produksi
Perhitungan cost produk
dilakukan melalui tahap-tahap berikut :
a. Alokasi BOP
departemen pembantu ke departemen produksi
b. Perhitungan cost produksi
bagian kievel, bagian printing, dan bagian guset.
Pembebanan Tanggung Jawab Biaya Dalam Akuntansi
Pertanggungjawaban Tradisional
Dalam menentukan terkendalikan atau tidaknya biaya, ada
dua metode yang dapat dilakukan, yaitu :
2.3 Penganggaran Flexibel
Berdasrkan Aktivitas
1. Pengertian JIT
Dalam
pengertian luas, Just In Time ( JIT )
merupakan filosofi pemanufakturan yang memusatkan pada aktivitas yang
diperlukan oleh segmen-segmen internal lainnya dalam suatu organisasi dengan memiliki
implikasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar Just In Time sangat sederhana,
yaitu berproduksi hanya apabila ada permintaan (full system) atau dengan kata
lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta, pada saat diminta, dan hanya
sebesar kuantitas yang diminta.
2.
Aspek – Aspek Pokok Just In Time (
JIT )
Prinsip dasar Just In Time adalah peningkatan kemampuan perusahaan secara terus
menerus untuk merespon perubahan dengan minimalisasi pemborosan. JIT mempunyai
empat aspek pokok sebagai berikut:
1. Semua aktivitas yang tidak bernilai
tambah terhadap produk atau jasa harus di eliminasi.Aktivitas yang tidak
bernilai tambah meningkatkan biaya yang tidak perlu,misalnya persediaan sedapat
mungkin nol.
2. Adanya komitmen untuk selalu
meningkatkan mutu yang lebih tinggi.Sehingga produk rusak dan cacat sedapat
mungkin nol,tidak memerlukan waktu dan biaya untuk pengerjaan kembali produk
cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang
berkesinambungan (Continuous Improvement)dalam
meningkatkan efisiensi kegiatan.
4. Menekankan pada penyederhanaan
aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.
JIT dapat diterapkan dalam berbagai
bidang fungsional perusahaan seperti misalnya pembelian, produksi, distribusi,
administrasi dan sebagainya.
- Prinsip Dasar Just In Time (JIT)
Untuk mengaplikasikan
metode JIT maka ada delapan prinsip yang harus dijadikan dasar pertimbangan di
dalam menentukan strategi sistem produksi, yaitu:
- Berproduksi sesuai dengan pesanan Jadual Produksi Induk
Sistem manufaktur baru akan dioperasikan untuk
menghasilkan produk menunggu setelah diperoleh kepastian adanya order dalam
jumlah tertentu masuk. Tujuan utamanya untuk memproduksi finished goods tepat
waktu dan sebatas pada jumlah yang ingin dikonsumsikan saja (Just in Time),
untuk itu proses produksi akan menghasilkan sebanyak yang diperlukan dan
secepatnya dikirim ke pelanggan yang memerlukan untuk menghindari terjadinya
stock serta untuk menekan biaya penyimpanan (holding cost).
- Produksi dilakukan dalam jumlah lot (Lot Size)
untuk menghindari perencanaan dan lead time yang
kompleks seperti halnya dalam produksi jumlah besar. Fleksibilitas aktivitas
produksi akan bisa dilakukan, karena hal tersebut memudahkan untuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian dalam rencana produksi terutama menghadapi perubahan
permintaan pasar.
- Mengurangi pemborosan (Eliminate Waste)
Pemborosan (waste) harus dieliminasi dalam setiap area
operasi yang ada. Semua pemakaian sumber-sumber input (material, energi, jam
kerja mesin atau orang, dan lain-lain) tidak boleh melebihi batas minimal yang
diperlukan untuk mencapai target produksi.
- Perbaikan aliran produk secara terus menerus.
(Continous Product Flow Improvement) Tujuan pokoknya
adalah menghilangkan proses-proses yang menimbulkan bottleneck dan semua
kondisi yang tidak produktif (idle, delay, material handling, dan lain-lain)
yang bisa menghambat kelancaran aliran produksi.
- Penyempurnaan kualitas produk (Product Quality Perfection)
Kualitas produk merupakan tujuan dari aplikasi Just in
Time dalam sistem produksi. Disini selalu diupayakan untuk mencapai kondisi
“Zero Defect” dengan cara melakukan pengendalian secara total dalam setiap
langkah proses yang ada. Segala bentuk penyimpangan haruslah bisa
diidentifikasikan dan dikoreksi sedini mungkin.
- Respek terhadap semua orang/karyawan (Respect to People)
Dengan metode Just in Time dalam sistem produksi
setiap pekerja akan diberi kesempatan dan otoritas penuh untuk mengatur dan
mengambil keputusan apakah suatu aliran operasi bisa diteruskan atau harus
dihentikan karena dijumpai adanya masalah serius dalam satu stasiun kerja
tertentu.
7. Mengurangi segala bentuk
ketidak pastian (Seek to Eliminate Contigencies)
Inventori
yang ide dasarnya diharapkan bisa mengantisipasi demand yang berfluktuasi dan
segala kondisi yang tidak terduga, justru akan berubah menjadi waste bilamana
tidak segera digunakan. Begitu pula rekruitmen tenaga kerja dalam jumlah besar
secara tidak terkendali seperti halnya yang umum dijumpai dalam aktivitas
proyek akan menyebabkan terjadinya pemborosan bilamana tidak dimanfaatkan pada
waktunya. Oleh karena itu dalam perencanaan dan penjadualan produksi harus bisa
dibuat dan dikendalikan secara teliti. Segala bentuk yang memberi kesan
ketidakpastian harus bisa dieliminir dan harus sudah dimasukkan dalam
pertimbangan dan formulasi model peramalannya
A. Pembelian JIT
Pembelian
JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa
sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau
penggunaan.
Pembelian JIT dapat mengurangi waktu
dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:
1. Mengurangi jumlah pemasok sehingga
perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi
dengan pamasoknya.
2. Mengurangi atau mengeliminasi waktu
dan biaya negosiasi dengan pemasok.
3. Memiliki pembeli atau pelanggan
dengan program pembelian yang mapan.
4. Mengeliminasi atau mengurangi
kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
5. Mengurangi waktu dan biaya untuk
program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan
pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan
manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
1. Ketertelusuran langsung sejumlah
biaya dapat ditingkatkan.
2. Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.
3. Mengubah dasar yang digunakan untuk
mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi
biaya langsung.
4. Mengurangi perhitungan dan penyajian
informasi mengenai selisih harga beli secara individual
5. Mengurangi biaya administrasi
penyelenggaraan sistem akuntansi.
B. Produksi JIT
Produksi
JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu,
mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi
berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan
biaya produksi dengan cara:
1. Mengurangi atau meniadakan barang
dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan
produk (konsep persediaan nol).
2. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi
(konsep waktu tunggu nol).
3. Secara berkesinambungan berusaha
sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan
pengolahan produk (workstation).
4. Menekankan pada penyederhanaan
pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat
dieliminasi.
Perusahaan
yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:
1. Lead time
(waktu tunggu) pemanufakturan
2. Persediaan bahan, barang dalam
proses, dan produk selesai
3. Waktu perpindahan
4. Tenaga kerja langsung dan tidak
langsung
5. Ruangan pabrik
6. Biaya mutu
7. Pembelian bahan
Penerapan
produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen
dalam beberapa cara sebagai berikut:
1. Ketertelusuran langsung sejumlah
biaya dapat ditingkatkan
2. Mengeliminasi atau mengurangi
kelompok biaya (cost pools) untuk
aktivitas tidak langsung
3. Mengurangi frekuensi perhitungan dan
pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara
individual
4. Mengurangi keterincian informasi yang
dicatat dalam “work tickets”
2. Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan
pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan
tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
1. Meningkatkan Keterlacakan
(Ketertelusuran) biaya.
2. Meningkatkan akurasi penghitungan
biaya produk.
3. Mengurangi perlunya alokasi pusat
biaya jasa (departemen jasa)
4. Mengubah perilaku dan relatif
pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
5. Mempengaruhi sistem penentuan harga
pokok pesanan dan proses.
Dasar-dasar
pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:
2.1. JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.
Pemanufakturan
JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull).
Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut
dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa
perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:
a. Persediaan Rendah
b. Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga
Kerja Interdisipliner
c. Filosofi TQC (Total Quality Control)
2.2. JIT dan Ketertelusuran Biaya
Overhead
Dalam
lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama
untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke
satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang
terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah
karakteristik utama JIT.
JIT
|
TRADISIONAL
|
Sistem Pull-through
Persediaan tidak signifikan
Sel-sel pemanufakturan
Tenaga kerja terinterdisipliner
Pengendalian mutu (TQC)
Dsentralisasi jasa
|
Sistem Push-through
Persediaan signifikan
Berstruktur departemen
Tenaga kerja terspesialisasi
Level mutu akseptabel (AQL)
Sentralisasi jasa
|
2.3. Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi dari penurunan
biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan
penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi
kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut
menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran
yang sulit.
2.4. JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam manufaktur tradisional,
sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi.
Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan
membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan
melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan
aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.
2.5. Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
Sebagai perusahaan yang menerapkan
JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara
signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1. Persentasi biaya tenaga kerja
langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2. Biaya tenaga kerja langsung berubah
dari biaya variabel menjadi biaya tetap.
2.6. Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
Salah satu masalah pertama akuntansi
yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan
untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat
persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti
aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT
diusahakan persediaan nol (atau paling
tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan
menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan
penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer
memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan
misalnya:
a. penetapan harga jual berdasar
cost-plus,
b. analisis trend biaya,
c. analisis profitabilitas lini produk,
d. perbandingan dengan biaya para
pesaing, (e) keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.
2.7. Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
Dalam
penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus
memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya,
sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
Dengan
mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian
yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat
dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka
tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan.
Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.
2.8. Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
Dalam
metode proses, perhitungan biaya per
unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses.
Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit
ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari
periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.
2.9. JIT dan Otomasi
Sejak sistem JIT digunakan, biasanya
hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum
bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya dengan
pemilikan teknologi
pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk :
a. menaikkan kapasitas produksi,
b. menaikkan efisiensi,
c. meningkatkan mutu dan pelayanan,
d. menurukan waktu pengolahan,
e. meningkatkan keluaran.
Otomasi
meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara
individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel
pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang tidak
langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.
2.10. Penentuan Harga Pokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush
mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi
secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing
jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :
1. Manajemen ingin sistem akuntansi yang
sederhana.
2. Setiap produk ditentukan biaya
standarnya.
3. Metode ini menghasilkan penentuan
harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama
dengan penelusuran secara berurutan.
Ada
dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1. Perubahan Akuntansi Bahan
2. Perubahan Akuntansi Biaya Konversi
3. Analisis Biaya-Volume-Laba
3.1 Analisis CPV Konvensional
Analisis biaya-volume-laba (CPV)
konvensional menganggap bahwa semua biaya,
produksi dan non produksi, dap[at digolongkan ke dalam dua kelompok
yaitu:
a. Biaya yang bervariasi dengan
volume, disebut biaya variabel
b. Biaya yang tidak bervariasi dengan
volume, disebut biaya tetap.
Dalam anlisis tersebut biaya dianggap
sebagai fungsi linier volume penjualan sehingga persamaannya adalah:
L
= P - B Dalam hal ini:
P
= H X L
= Laba bersih sebelum pajak
B
= T + VX P = Pendapatan Total
Sehingga: B = Biaya Total
L
= HX - T - VX H
= Harga jual per unit
X(H - V) = L + T X =
Unit atau volume produk yang X
= (L+T)/(H-V) T = Biaya
tetap total
V
= Biaya variabel per unit
3.2
Analisis CPV dalam JIT
Dalam sistem JIT,biaya variabel per
unit produk yang dijual turun namun biaya tetapnya naik.Dalam JIT,biaya
variabel berdasar batch tidak ada karena batch menjadi satu kali.Jadi,rumus
biaya dalam JIT dapat digambarkan sebagai berikut:
B
= T + V1X1 + V3X3
B = Biaya Total X1 =
Jumlah unit
T = Biaya tetap X3
= Jumlah kegiatan
V1 = Biaya variabel berdasar unit
penjualan (berdasar unit)
V3 = Biaya variabel berdasar non unit
4. Titik Impas
Titik impas adalah suatu keadaan
dimana perusahaan tidak mendapat laba maupun rugi.jadi dapat dikatakan kondisi
pendapatan perusahaan dalam keadaan seimbang.
1.
Sistem
Konvensional
X = (I + F) / (P - V)
Dalam hal ini:
X =
Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I
= Laba sebelum pajak penghasilan
F
= Total biaya tetap
P
= Harga jual per unit
V
= Biaya variabel per unit
4.2
Sistem JIT
X1 = (I + F1 + X2V2
) / (P - V1)
Dalam hal ini:
X1 = Unit produk yang harus dijual untuk mencapai
laba tertentu
I
= Laba sebelum pajak penghasilan
F1 =
Total biaya tetap
X2 =
Jumlah kuantitas berbasis nonunit
V2 =
Biaya variabel per basis non unit
P
= Harga jual per unit
V1 = Biaya
variabel per unit
Illustrasi :
PT.KIRANA,
sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan suku cadang menggunakan
dua sistem biaya yang berbeda yaitu:
1. Sistem biaya konvensional
1. JIT
.Sistem biaya konvensional
membebankan BOP menggunakan pengarah biaya (cost
driver) berbasis unit. Sistem JIT menggunakan pendekatan yang terfokus pada
penelusuran biaya dan penentuan harga pokok berbasis aktivitas untuk biaya yang
tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan suatu sel pemanufakturan. Untuk
mengetahui perbedaan antara kedua metode, berikut ini disajikan data biaya
produksi untuk bulan desember 1997 :
ELEMEN BIAYA
|
SISTEM BIAYA
|
|
KONVENSIONAL
|
JIT
|
|
Bahan Baku
Tenaga kerja langsung
BOP Variabel berbasis unit
BOP Variabel berbasis non unit
BOP tetap langsung
BOP tetap bersama
|
Rp 800
70
90
-
30
100
Rp 1.090
|
Rp 800
100
20
30
30
20
Rp 1.000
|
Diminta:
1. Hitunglah jumlah maksimum dari
masing-masing sistem biaya yang harus dibayar seandainya perusahaan memutuskan untuk
membeli pada pemasok luar.
1. Bila
diketahui perusahaan berproduksi
pada kapasitas 1500 unit dengan
harga jual Rp 1.100, susunlah
laporan L/R untuk periode yang bersangkutan
1. Lakukan analisis terhadap kasus
tersebut.
Penyelesaian :
1. Jumlah
maksimum yang harus dibayar kepada pemasok luar, biasa dianggap sebagai biaya
terhindarkan yang harus diputuskan oleh perusahaan tersebut.
Biaya yang dapat dihindarkan:
- Sistem biaya konvensional = Rp
800 + 70 + 90 + 30 = Rp 990
- Sistem biaya JIT =
Rp 800 + 100 +30 +20 +30 = Rp 980
2. Laporan L/R
KETERANGAN
|
SIST. KONVENSIONAL
|
SIST. JIT
|
Penjualan :
(
1500 u x Rp 1.100)
Biaya Variabel :
(Rp 9601) x
1.500 u)
(Rp 8202) x
1.500 u)
Laba Kontribusi
Biaya Tertelusur :
Bi. variabel berbasis
non unit
Bi. tetap langsung
Jumlah Biaya Tertelusur
Laba Langsung Produk
|
Rp 1.650.000
1.440.000
210.000
-
45.000
45.000
165.000
|
Rp 1650.000
1.230.000
420.000
45.0003)
195.004)
240.000
180.000
|
1) Rp 800 + Rp 70 + Rp 90 = Rp
960
2) Rp 800 + Rp 20 = Rp 820
3) Rp 30 x 1.500 u = Rp 45.000
4) (Rp 100 + Rp 30) x 1.500 u =
Rp 195.000
3. Sistem
penentuan harga pokok konvensional menyediakan laporan yang menunjukkan
profitabilitas produk sedangkan sistem JIT menunjukkan adanya efisiensi karena
JIT dapat mengubah beberapa jenis biaya mis: Biaya tenaga kerja langsung
menjadi biaya tetap langsung.
BAB III
Kesimpulan Dan Saran
3.1 Kesimpulan
akuntansi pertanggungjawaban merupakan alat
fundamental dari pengendalian manajerial Informasi akuntansi pertanggung jawaban adalah
suatu informasi tentang aktiva, pendapatan, dan biaya yang menjadi wewenang dan
tanggung jawab unit-unit organisasi yang bertanggung jawabatas
pertanggungjawaban tertentu dalam suatu organisasi Proses penyusunan anggaran
pada dasarnya merupakan proses penetapan peran dalam usaha mencapai sasaran
perusahaan Informasi akuntansi pertanggungjawaban digunakan sebagai penilai
kinerja manajer pusat pertanggungjawaban dan sebagai pemotivasi manajer dalam menjalankan kegiatannya
dengan baik yang terhidar dari penyimpangan Dengan melihat penyimapangan yang
terjadi dalam perusahaan, maka manajemen akan memusatkan perhatiaanya terhadap
perbaikan ketidakefisienan yang terjadi.dengan memberlakukan Just In Time
dimana memproduksi produk
hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan
pembeli (pelanggan) maka Efisiensi Dalam produksi akan terwujud dimana sistem
penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya
sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi
3.2 Saran
- Penyusunan makalah ini diharapkan
dapat bermanfaat bagi semua pihak sehingga diharapkan pembaca mampu
mengimplementasikan isi dari makalah ini dalam kehidupan nyata dimasyarakat
untuk menunjang pengenalan lingkungan bisnis serta penerapannya
untuk download makalah perencanaan dan pengendalian dalam lingkungan pemanufakturan maju
Tidak ada komentar:
Posting Komentar