BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bagi sebuah perusahaan adanya struktur organisasi
sangat diperlukan. Terutama bagi mereka yang percaya bahwa bagan organisasi
diperlukan guna menjamin manajemen yang efektif, akan menjadi bingung bila hal
tersebut tidak ada. Individu tidak akan memahami pekerjaan mereka, apa yang
harus dilakukan, bagaimana pekerjaan mereka akan bisa memenugi pekerjaan
subunit lain. Dengan tidak adanya bagan organisasi untuk mengklarifikasikan
hubungan, maka hal yang tidak logik dan kekaburan akan terjadi. Kenyataannya,
setiap proses dari pembuatan bagan organisasi merupakan tes yang baik bagi
keberadaan bagian tersebut, karena setiap hubungan yang tidak bisa dibuatkan
bagannya tampkanya akan menjadi kurang kuat dan karenanya membingungkan mereka
yang bekerja di dalamnya.
Mereka yang mendukung dengan kuat percaya bahwa
manajemen akan memilih struktur organisasi dengan spesifikasi tertulis atas
persyaratan-persyaratan penting dari masing-masing tingkat manajemen,
departemen , komite dan pekerjaan atau kelompok pekerjaan yang sama. Materi ini
memberikan kepada kita individu dan kelompok informasi guna membantu memahami
bagaimana usaha mereka berkorelasi dengan usaha pihak lain. Dibeberapa contoh,
perusahaan kecil yang dapat berjalan dengan baik di tahap awal perkembangan
mereka, mulai gagal bila pendirinya tidak bisa terus menerus memanajemeni denan
gaya pribadi mereka. Transisi dari keberhasilan perusahaan kecil menjadi
perusahaan besar ang berhasil, terganggu karena karyawan melakukan pekerjaan
yang sesuai dengan kepribadian dan keterampilan khusus mereka dibanding dengan
pekerjaan yang diperlukan utnuk kinerja organisasi. Bagan organisasi dan
dokumen pendukung diperlukan dari saat awal keberadaan perusahaan, tidak hanya
bila telah menjadi besar bagi satu orang untuk memanajemeni.
Struktur organisasi dihasilkan dari keputusan
manajerial mengenai empat atribut penting dari seluruh organisasi: pembagian
kerja, dasar departementasi, ukuran departemen, dan pendelegasian wewenang.
Keputusan yang dibuat manajer dipengaruhi oleh faktor desain pekerjaan dan
desain organisasi seperti perbedaan individu, kompetensi tugas, teknologi ,
ketidakpastian lingkungan strategi, dan karakteristik manajer tertentu. Atribut
struktur menentukan seberapa luas organisasi mencerminkan dimensi formal,
kompleksitas dan sentralisasi. Struktur organisasi berkontribusi pada
efektivitas organisasi dan hubungannya dalam menjustifikasi minat.
1.2
Identifikasi Masalah
Pokok –
pokok masalah
1. Apa itu
struktur organisasi?
2. Elemen
apa saja yang terkandung dalam struktur organisasi tersebut?
3. Apa
bentuk dan fungsi struktur organisasi itu sendiri?
1.3 Tujuan
Adapun yang
menjadi tujuan laporan ini adalah
1. Untuk
mengetahui pengertian struktur organisasi
2. Untuk
mengetahui apa saja yang terkandung dalam struktur organisasi tersebut
3. Untuk
mengetahui bentuk dan fungsi struktur organisasi tersebut.
1.4 Manfaat
Laporan ini
bermanfaat bagi penulis bahwa dalam setiap perusahaan baik itu perusahaan kecil
ataupun besar harus memiliki struktur organisasi yang baik dan benar.
BAB II
PENGORGANISASIAN
A. Pengorganisasian
1. Pengertian Organisasi
Organisasi adalah suatu
kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan dan
mau terlibat dengan peraturan yang ada. Organisasi ialah suatu wadah atau
tempat untuk melakukan kegiatan bersama agar dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan bersama. Jadi secara sederhana, pengorganisasian
(Organizing) adalah proses pengaturan sumber daya organisasi untuk mencapai
tujuan yang diinginkan dengan memperhatikan lingkungan yang ada.
Pengorganisasian merupakan
fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses
kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan,
sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah
struktur organisasi.
Pengertian organisasi menurut berbagai para ahli
antara lain:
1.
Organisasi Menurut Stoner
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana
orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
2.
James D. Mooney (1974)
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama.
3.
Ralp Currier Davis (1951)
Organisasi adalah sesuatu kelompok orang-orang yang sedang bekerja ke arah tujuan
bersama di bawah kepemimpinan.
4.
Daniel E. Griffths (1959)
Organisasi adalah seluruh orang-orang yang melaksanakan fungsi-fungsi yang
berbeda tetapi saling berhubungan dengan yang dikoordinasikan agar sebuah tugas
dapat diselesaikan.
5.
Chester I. Bernard
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh
dua orang atau lebih.
2. Teori-Teori Organisasi
Teori organisasi merupakan teori
yang mempelajari kinerja dalam sebuah organisasi. Salah satu kajian teori organisasi,
diantaranya membahas tentang bagaimana sebuah organisasi menjalankan sebuah
fungsi dan mengaktualisasikan visi dan misi organisasi tersebut. Selain itu,
dipelajari bagaimana sebuah organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
orang-orang didalamnya maupun lingkungan kerja organisasi tersebut.
Teori organisasi pertama kali
muncul pada abad ke-19 karena pengaruh Revolusi Inggris. Secara umum, teori
organisasi merupakan rangkuman konsep, ikhtisar, tinjauan dan pendapat yang
berkaitan dengan metode pemecahan masalah organisasi agar mampu mencapai
tujuannya secara efektif dan efisien.
Berdasarkan perkembangannya yang
dialami, teori organisasi selalu mengalami evolusi dari masa ke masa. Secara
garis besar, evolusi teori organisasi bisa dibedakan ke dalam tiga kelompok,
yakni teori organisasi klasik, teori organisasi neoklasik, dan teori organisasi
modern.
Pengertian
Struktur Organissasi
Struktur
organisasi adalah sturktur yang terdiri dari hubungan antara pekerjaan dan
kelompok pekerjaan yang relatif tetap dan stabil dengan tujuan memengaruhi
perilaku individu dan kelompok guna mencapai prestasi yang efektif.
1. Teori Organisasi Klasik
Teori organisasi yang berkembang mulai awal abad ke-19 digolongkan kedalam
teori organisasi klasik atau disebut juga “teori tradisional” atau “teori
mesin”. Pada masa ini organisasi divisualisasikan sebagai sekelompok orang yang
membentuk lembaga. Tiap-tiap bagian organisasi tersebut memiliki spesialisasi
dan sentralisasi dalam tugas dan wewenang.
Dalam teori
organisasi klasik ini, dinyatakan bahwa sebuah organisasi terdiri atas empat
unsur pokok, yakni sebagai berikut :
1. Kegiatan
yang tersistem dan terkoordinasi
2. Adanya
sekelompok orang dengan spesialisasi tertentu
3. Kerja sama
antara sekelompok orang dengan spesialisasi yang berbeda
4. Adanya
kekuasaan dan kepemimpinan yang mengendalikan sistem tersebut.
Para penganut teori organisasi
klasik meyakini bahwa organisasi bergantung pada kekuasaan, saling melayani,
doktrin, dan disiplin. Teori organisasi klasik kemudian berkembang menjadi tiga
aliran, yaitu teori birokrasi, administrasi, dan manajemen ilmiah.
a.
Teori Birokrasi
Teori ini dikemukakan secara jelas. Model organisasi
birokrasi ini mempunyai karakteristik-karakteristik struktural tertentu yang
dapat dikemukakan di setiap organisasi kompleks dan modern. Weber mengemukakan
karakteristik-karakteristik birokrasi sebagai berikut :
1.
Pembagian kerja yang jelas.
2.
Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik.
3.
Program rasional dalam pencapaian.
4.
Sisitem prosedur bagi penanganan situasi kerja.
5.
System aturan yang mencangkup hak-hak dan kewajiban-kewajiban posisi para
pemegang jabatan.
6.
Hubungan-hubungan antar pribadi yang sifatnya “impersonal”.
Jadi
birokrasi adalah sebuah model organisasi normative, yang menekankan struktur
dalam organisasi.
b.
Teori Administrasi
Teori administrasi adalah bagian kedua dari teori
organisasi klasik. Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasar sumbangan
Henri Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa, serta Mooney dan Reiley di Amerika.
a.
Henry Fayol
Henry Fayol seorang industralis dari perancis pada
tahun 1916 telah menulis masalah-masalah tehnik dan administrasi dalam bukunya
yang terkenal Administration Industrielle et Generale (Administrasi Industri
dan Umum). Fayol menyatakan bahwa semua kegiatan-kegiatan industrial dapat
dibagi menjadi enam kelompok :
1.
Kegiatan-kegiatan tehnikal
2.
Kegiatan-kegiatan komersial
3.
Kegiatan-kegiatan finansial
4.
Kegiatan-kegiatan keamanan
5.
Kegiatan-kegiatan akutansi
6.
Kegiatan-kegiatan manajerial
Fayol mengemukakan dan membahas empat belas kaidah
manajemen yang menjadi dasar perkembangan teori adminstrasi, yaitu :
1.
Pembagian kerja (division work)
2.
Wewenang dan tanggung jawab (authority
and responsibility)
3.
Disiplin (discipline)
4.
Kesatuan perintah (unity of command)
5.
Kesatuan pengarahan (unity of
direction)
6.
Mendahulukan kepentingan umum
daripada kepentingan pribadi (subordination of individual interest to
general interest)
7.
Balas jasa (remuneration of
personnel)
8.
Sentralisasi (centralization)
9.
Rantai scalar (scalar chain)
10. Aturan
(order)
11. Keadilan
(equity)
12. Kelanggengan
personalia (stability of tenure of personnel)
13. Inisiatif
(initiative)
14. Semangat
korps (esprit de corps)
Disamping itu, fayol memerinci fungsi-fungsi kegiatan
administrasi menjadi “elemen-elemen manajemen” yang juga dikenal dengan Fayol’s
Functionalism atau teori fungsionalisme Fayol , yaitu :
1.
Perencanaan (planning),
2.
Pengorganisasian (organizing),
3.
Pemberian perintah (commanding),
4.
Pengkoordinasian (coordinating), dan
5.
Pengawasan (controlling)
b.
Urwick dan Gulick
Luther Gulick dan Lydall Urwick, menggunakan
pengalaman manajerial mereka dalam menguraikan prinsip-prinsip Fayol, yang
tercermin dalam dua makalahnya tehnikal Problem dan The Function of
Administration. Dalam makalah-makalah mereka, Gulick dan Urwick memperkenalkan
prinsip-prinsip yang berhubungan dengan pembagian kerja, koordinasi, penciptaan
departemen-departemen yang disusun atas dasar “tujuan, proses, personalia, dan
tempat“ dan penggunaan staff. Urwick terutama melihat kesulitan-kesulitan
administrasi, penerapan kaidah-kaidah organisasi (terutama birokrasi) dalam
praktek, sehingga dia mengembangkan teknik-teknik penerapannya yang kemudian
dikenal dengan Urwick’s Technique.
c.
Mooney dan Reilly
Di Amerika Serikat, James D.Mooney dan Allen Reilly
dalam tahun 1931 menulis dan menerbitkan buku mereka,Onward Industry di mana
buku ini mempunyai dampak besar pada praktek manajemen di Amerika. Mereka
menekankan 3(tiga) prinsip organisasi yang mereka teliti dan temukan telah
dijalankan dalam organisasi-organisasi pemerintahan, agama, militer, dan
bisnis. Ketiga prinsip tersebut adalah:
1.
Prinsip Koordinasi
2.
Prinsip Skalar
3.
Prinsip Fungsional
c.
Manajemen Ilmiah
Manajemen ilmiah dikembangkan oleh Frederick Winslow
Taylor. Teori manajemen ilmiah masih banyak dijumpai dalam praktek-praktek
manajemen modern. Dalam buku-buku literature, manajemen ilmiah sering diartikan
berbeda. Arti pertama, manajemen ilmiah merupakan penerapan masalah-masalah
organisasi. Sedangkan arti kedua, manajemen ilmiah adalah seperangkat
mekanisme-mekanisme atau teknik-teknik.
F.W. Taylor menuangkan gagasannya dalam tiga makalah yaitu Shop
Management, The Principles of Scientific yang menghasilkan empat kaidah dasar
manajemen yang harus dilaksanakan dalam organisasi perusahaan, yaitu :
1.
Menggantikan metode-metode kerja
dalam praktek dengan berbagai metode yang dikembangkan atas dasar ilmu
pengetahuan tentang kerja ilmiah yang benar.
2.
Mengadakan seleksi,
latiahn-latiahan, dan pengembangan para karyawan secara ilmiah, agar
memungkinkan para karyawan bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan
spesialisasinya.
3.
Pengembangan ilmu tentang kerja
serta seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah harus diintegrasikan,
sehingga para karyawan memperoleh kesempatan untuk, mencapai tingkat upah yang
tinggi, sementara manajemen dapat menekan biaya produksi menjadi rendah.
4.
Untuk mencapai manfaat manajemen
ilmiah, perlu dikembangkan semangat dan mental para karyawan melalui pendekatan
antara karyawan dan manajer sebagai upaya untuk menimbulkan suasana kerja sama
yang baik.
2. Teori Neoklasik
Aliran teori organisasi Neoklasik muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan
terhadap teori organisasi klasik, ketiga teori organisasi yang tergabung dalam
teori organisasi klasik tersebut dinilai sangat kaku dan mengabaikan hubungan
manusiawi. Teori organisasi neoklasik memberi perhatian khusus pada aspek
psikologis dan sosial pada diri anggota organisasi, baik sebagai individu
maupun kelompok kerja.
Salah satu pencetus teori ini adalah Hugo Munsterberg, tertuang dalam
bukunya, Psychology and Industrial Effeciency yang terbit pada 1913, dan
dinilai sebagai rantai penghubung evolusi teori manajemen ilmiah menuju
neoklasik.
3. Teori Modern
Teori organisasi klasik dan teori organisasi neoklasik ternyata dinilai
belum memuaskan untuk tuntunan manajemen modern. Banyak kelemahan dan
ketimpangan yang masih ditemukan sehingga mendorong munculnya teori organisasi
modern pada 1950.
Teori organisasi modern ini kemudian dikenal dengan nama “Analisis Sistem”
atau “Teori Terbuka” yang memandang organisasi sebagai satu kesatuan dari
berbagai unsur yang saling bergantung. Beberapa perbedaan mencolok antara teori
modern dengan teori klasik adalah sebagai berikut :
1.
Teori
organisasi klasik menitikberatkan pada análisis dan deskripsi sementara teori
organisasi modern menekankan pada keterpaduan dan perancangan secara
menyeluruh.
2.
Teori
organisasi klasik terfokus pada konsep, skalar, dan hubungan vertikal,
sementara teori organisasi modern cenderung horizontal, dinamis, dan
multidimensi.
Teori
Organisasi di Indonesia
Organisasi di Indonesia tidak
menekankan análisis dan deskripsi sendiri-sendiri. Selain itu, konsep dinamis,
horizontal dan multidimensi yang ditujukkan sebagian besar organisasi di
Indonesia semakin memperkuat pandangan bahwa teori organisasi yang diterapkan
di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh teori organisasi modern.
2. Bentuk-Bentuk Organisasi
Ada beberapa bentuk berbeda
dari struktur organisasi dalam sebuah tim. Tim yang sudah terorganisir dan
tersturktur dengan baik sangatlah penting, karena akan mengarahkan tim tersebut
menjadi sebuah tim yang ahli dan cakap dalam bekerja. Pengambilan keputusan
dalam sebuah tim bergantung pada bagaimana cara tim tersebut akan bekerja
bersama.
Ada 4 bagan struktur organisasi menurut Henry G.
Hodges, yaitu :
1.
Bentuk Piramida, merupakan
bentuk yang paling banyak digunakan, sederhana, jelas, dan mudah dimengerti.
2.
Bentuk Vertikal, hampir
sama dengan bentuk piramidal dalam pelimpahan kekuasaan.
3.
Bentuk Horizontal, aliran
wewenang dan tanggung jawab digambarkan dari kiri ke kanan.
4.
Bentuk Melingkar, menekankan
pada hubungan antara satu jabatan dengan jabatan lainnya.
Bentuk-bentuk organisasi dibedakan atas :
1.
Organisasi Fungsional
Suatu organisasi dimana wewenang dari pimpinan
tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian yang mempunyai jabatan fungsional
untuk dikerjakan kepada para pelaksana yang mempunyai keahlian khusus.
2.
Organisasi Fungsional dan Garis
Bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan
tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian dibawahnya yang mempunyai keahlian
tertentu serta sebagian dilimpahkan kepada pejabat fungsional yang
koordinasinya tetap diserahkan kepada kepala bagian.
3.
Organisasi Komite
Bentuk organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas
tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok pejabat, yang berupa
komite atau dewan atau board dengan pluralistik manajement.
4.
Organisasi Garis dan Staff
Suatu bentuk organisasi dimana pelimpahan wewenang
berlangsung secara vertikal. Manajer ditempatkan satu atau lebih pejabat staff
yang tidak mempunyai wewenang memerintah tetapi hanya sebagai penasehat.
5.
Organisasi Matrix
Organisasi dimana
penggunaan struktur organisasi menunjukan dimana para spesialis yang mempunyai
keterampilan dimasing-masing bagian dari bagian perusahaan dikumpulkan lagi
menjadi satu untuk mengerjakan suatu proyek yang harus diselesaikan
B. Struktur
Organisasi
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja)
dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan
menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda
tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi
juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan
penyampaian laporan.
Struktur Organisasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal
organisasi diolah. Struktur organisasi terdiri atas unsur spesialisasi
kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam
pembuatan keputusan dan ukuran satuan kerja.
Salah satu contoh struktur tradisional adalah record
daftar gaji karyawan, dimana karyawan digambarkan dengan susunan lambang
seperti nama, alamat, nomor jaminan sosial, gaji dan sebagainya. Beberapa dari
lambang tersebut biasanya berupa struktur, nama mempunyai komponen begitu juga
alamat dan gaji.
Adapun faktor-faktor
utama yang menentukan perancangan struktur organisasi sebagai berikut:
1.
Strategi
Organisasi untuk mencapai tujuannya. Strategi akan
menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran
komunikasi dapat disusun di antara para manajer dan
bawahan. Aliran kerja sangat dipengaruhi strategi, sehingga
bila strategi berubah maka struktur organisasi
juga berubah.
2.
Teknologi
yang digunakan. Perbedaan teknologi yang digunakan untuk
memproduksi barang-barang atau jasa akan membedakan bentuk
struktur organisasi, sebagai contoh perusahaan mobil
yang mempergunakan teknologi industri massal akan
memerlukan tingkat standarisasi dan spesialisasi yanglebih
tinggi dibandingkan perusahaan industri pakaian jadi yang
mengutamakan perubahan mode.
3.
Anggota
(karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam
organisasi. Kemampuan mereka untuk bekerjasama harus
diperhatikan dalam merancang struktur organisasi. Kebutuhan manajer
dalam pembuatan keputusan juga akan mempengaruhi saluran
komunikasi, wewenang dan hubungan di antara satuan-satuan kerja
pada rancangan struktur organisasi seperti pelanggan, supplier dan
sebagainya perlu dipertimbangkan dalam penyusunan struktur.
4.
Ukuran
organisasi besarnya organisasi secara keseluruhan maupun
satuan-satuan kerjanya akan sangat mempengaruhi struktur
organisasi akan semakin kompleks dan harus dipilih
bentuk struktur yang tepat.
Sedangkan unsur-unsur struktur organisasi
terdiri dari:
1.
Spesialisasi
kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas
individual dan kelompok kerja dalam organisasi (pembagian
kerja) dan penyatuan tugas-tugas tersebut
menjadi satuan-satuan kerja (departementalisasi)
2.
Standarisasi
kegiatan, merupakan prosedur-prosedur yang digunakan
organisasi untukmenjamin terlaksananya kegiatan seperti
yang direncanakan .
3.
Koordinasi
kegiatan menunjukan prosedur-prosedur
yangmengintegrasikan fungsi-fungsi satuan-satuan kerja dalam
organisasi .
4.
Sentralisasi
dan desentralisasi pembuatan keputusan yangmenunjukan lokasi
(letak) kekuasaan pembuatan keputusan.
5.
Ukuran
satuan kerja menunjukan jumlah karyawan dalam suatu kelompok
kerja.
Menurut
Keith Davis ada 6 bagan bentuk struktur organisasi yaitu :
1.
Bentuk Vertikal
Dalam bentuk ini, sistem organisasi
pimpinan sampai organisasi atau pejabat yang lebih rendah digariskan dari atas
ke bawah secara vertikal.
2. Bentuk
Mendatar / Horizontal
Dalam bentuk ini, saluran
wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat
yang terendah disusun atau digariskan dari kiri kea rah kanan atau sebaliknya.
3. Bentuk
Lingkaran
Dalam bentuk lingkaran, saluran
wewenangnya dari pucuk pimpinana sampai dengan satuan organisasi atau pejabat
yang terendah disusun dari pusat lingkaran ke aarah bidang lingkaran.
4. Bentuk
Setengah Lingkaran
Dalam bentuk ini, saluran wewenang
dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah
disusun dari pusat lingkaran kea rah bidang bawah lingkaran atau sebaliknya.
5. Bentuk
Elliptical
Dalam bentuk ini, saluran
wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat
yang terendah digambarkan dengan pusat Elips kearah bidang elips.
6. Bentuk
Piramid terbalik
Dalam bentuk ini, saluran wewenang
dari pucuk pimpinan sampai dengan organisasi atau pejabat terendah digambarkan
dalam susunan berbentuk pyramid terbalik.
Elemen
Struktur Organisasi
Terdapat
enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak
mendesain struktur, diantaranya adalah:
1.
Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam
organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
2. Departementalisasi.
Dasar yang dipakai untuk mngelompokan pekerjaan secara bersama-sama. Departementalisasi
dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.
3. Rantai
komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi
ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa
4. Rantai
kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara
efiseien dan efektif
5. Sentralisasi
dan desentralisasi/ sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan
keputusan terkonsentrasi pada satu tutuk di dalam organisasi. Desentralisasi
adalah lawan dari sentralisasi.
6.
Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam
organisasi dibakukan.
2.3 Konsep
Struktur Organisasi
1.
Struktur Sebagai suatu Pengaruh pada Perilaku
Pentingnya
struktur sebagai sumber pengaruh telah begitu luas. Kita tidak dengan begitu
mudah pergi bekerja dan melakukan apa yang ingin kita lakukan, kita melakukan
paa yang diinginkan oleh organisasi dan membayar kita untuk melakukannua. Kita
tidak mempunyai kebebasan memilih bila kita mengerjakan tugas yang dituntut
oleh pekerjaan yang kita pegang. Pekerjaan menjadi ciri penting bagi setiap
organisasi.
2.
Struktur Sebagai Aktivitas Berulang
Perspektif
kedua atas stuktur organisasi harus diperkenalkan guna memberikan suatu
pemahaman konsep yang lengkap. Perspektif ini memfokuskan pada aktivitas yang
dilakukan sebagai kensekuensi terhadap struktur. Definisi yang memfokuskan atas
dasar reguleritas aktivitas organisasi menekankan pada kepentingan.
3.
Struktur Sebagai Perilaku yang Berorientasi pada
Maksud dan Tujuan
Ini berarti
bahwa struktur organisasi juga berorientasi pada tujuan dan maksud tertentu.
Konsep ini akan memerhatikan keberadaan maksud dan tujuan tersebut dan menjadi
sikap kita bahwa manajemen ebaiknya berpikir mengenai struktur dalam kaitan
atas kontribusi pada efektivitas organisasi.
Pernyataan bahwa struktur organisasi membantu
pencapaian tujuan organisasi diasumsikan bahwa manajer mengetahui bagaimana
menyesuaikan struktur dan tujuan serta apa yang mereka ingin lakukan. Struktur
organisasi mencerminkan dan berkontribusi pada tujuan pribadi manajer dengan
biaya tujuan organisasi. Jadi untuk mengatakan bahwa struktur organisasi
memberikan kontribusi positif pada efektivitas organisasi membutuhkan asumsi
mengenai kemampuan dan motivasi dari mereka yang mempunyai kekuasaan untuk
mendesainnya. Struktur suatu organisasi tanpa diragukan berhubungan dengan
pencapaian efektivitas organisasi, kecuali kalau sifat alamiah hubungan secara
inheren sulit dikenali.
Faktor
Penentu Struktur Organisasi
1.
Strategi
Struktur organisasi adalah salah
satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya. Karena sasaran
diturunkan dari strategi organisasi secara keseluruhan, logis kalau strategi
dan struktur harus terkait erat. tepatnya, struktur harus mengikuti strategi.
Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam strategi organisasinya,
struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan
ini.Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi
-inovasi, minimalisasi biaya, dan imitasi- dan pada desain struktur yang
berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.
Strategi inovasi adalah strategi
yang menekankan diperkenallkannya produk dan jasa baru yang menjadi
andalan.Stratedi minimalisasi biaya adalah strategi menekankan pengendalian biaya
secara ketat menghindari pengeluaran untuk inovasi dan pemasaran yang tidak
perlu dan pemotongan harga.Strategi imitasi adalah strategi yang mencoba masuk
ke produk – produk atau pasar – pasar baru hanya setelah viabilitas terbukti.
2.
Ukuran organisasi
Terdapat banyak bukti yang mendukung
ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan memengaruhi
strukturnya.Sebagai contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan
2.000 orang atau lebih cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi,
tingkatan vertikal, serta aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil.
Namun, hubungan itu tidak bersifat linier.Alih-alih, ukuran memengaruhi
struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang
penting saat organisasi meluas.
3.
Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara
sebuah organisasi mengubah input menjadi output. Setiap organisasi paling tidak
memiliki satu teknologi untuk mengubah sumber daya finansial, SDM, dan sumber
daya fisik menjadi produk atau jasa.
4.
Lingkungan
Lingkungan sebuah organisasi
terbentuk dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan di luar organisasi yang
berpotensi memengaruhi kinerja organisasi. Kekuatan-kekuatan ini biasanya
meliputi pemasok, pelanggan, pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok
tekanan publik, dan sebagainya.
Struktur organisasi
dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah.Beberapa
organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di
lingkungan mereka yang berubah. Misalnya, tidak muncul pesaing baru, tidak ada
terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak banyak aktivitas
dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi organisasi.
Organisasi-organisasi lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis peraturan
pemerintah cepat berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing baru, kesulitan
dalam mendapatkan bahan baku, preferensi pelanggan yang terus berubah terhadap
produk, dan semacamnya.
Secara signifikan,
lingkungan yang statis memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer
dibanding lingkungan yang dinamis.Karena ketidakpastian adalah sebuah ancaman
bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba meminimalkannya.
Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui
penyesuaian struktur organisasi.
Desain Struktur Organisasi Modern
a) Struktur Tim
Struktur tim adalah pemanfaatan tim
sebagai perangkat sentral untuk mengoordinasikan kegiatan-kegiatan kerja.
Karakteristik utama struktur tim adalah bahwa struktr ini meniadakan
kendala-kendala departemental dan mendesentralisasi pengambilan keputusan ke
tingkat tim kerja. Struktur tim juga mendorong karyawan untuk menjadi generalis
sekaligus spesialis.
b) Organisasi virtual
Organisasi virtual adalah organisasi
inti kecil yang menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis secara detail.
c) Organisasi Nirbatas
Organisasi nirbatas adalah sebuah
organisasi yang berusaha menghapuskan rantai komando, memiliki rentang kendali
tak terbatas, dan mengganti departemen dengan tim yang diberdayakan
Model Desain
Struktur Organisasi
- Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
- Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
- Model Piramid, model ini di buat persis sebuah piramida.
- Model Horizontal, model ini dibuat dengan manarik garis lurus secara horizontal dengan pembagian funsional masing-masing bersama tugasnya masi-masing
1. Pembagian Kerja
Tujuan suatu
organisasi adalah untuk mencapai tujuan dimana
individu-individu tidak dapat mencapai sendiri. Kelompok dua
atau lebih orang yang bekerja bersama secara koopeatif dan
dikoordinasikan hasil lebih daripada dilakukan perseorangan.
Konsep ini disebut SYNERGY. Tiang dasar pengorganisasian adalah
prinsip pembagian kerja (divisi of labor) yang memungkinkan Synergi
terjadi.
Sebagai
contoh, pembagian kerja dalam team sepak bola : dimana ada
manajer tim, kepala pelatih, asisten pelatih, dokter tim,
penjaga gawang, dan pemain lainnya. Pembagian kerja ini efektif
karena hanya bila hanya komponen kecil dari pekerjaan yang
dilaksanakan kualifikasi personalia yang rendah digunakan dan
latihan jabatan lebih mudah. Gerakan-gerakan dan
perpindahan yang percuma dari komponen pekerja yang besar
diminimumkan. Lebih dari itu pembagian pekerjaan
mengarahkan penanaman pada peralatan dan
mesin-mesin yang efisien untuk meningkatkan produktivitas.
Namun
demikian, beberapa penulis telah menunjukan adanya
konsekuensi-konsekuensi pada perilaku karyawan
sehubungan dengan pembagian kerja bila hal ini
dilaksanakan secara ekstrim ini akan menimbulkan
kebosanan keletihan, monoton dan kehilangan motivasi yang
dapat menghasilkan ketidak efisienan dan bukan efisiensi.
Berikut ini ada beberapa dasar yang dapat dijadikan pedoman untuk
mengadakan pembagian kerja. Pedoman-pedoman tersebut adalah:
1.
Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya wilayah timur,
barat atau wilayah kecamatan, kabupaten dan lain sebagainya.
2.
Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi, misalnya pada
komponen suatu kendaraan, bagian pemasangan jok mobil, pemasangan rem mobil dan
lainnya.
3.
Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani, misalnya adalah
langganan secara individual atau kelompok, pemerintahan atau non pemerintahan
dan sebagainya.
4.
Pembagian kerja atas dasar fungsi (rangkaian) kerja, misalnya bagian
produksi, bagian gudang, bagian pengiriman dan lainnya.
5.
Pembagian kerja atas dasar waktu, misalnya shif kerja pagi, siang dan
malam.
Dari hal tersebut diatas maka
akan tergambar atau terlihat pembagian kerja di dalam suatu organisasi, yakni:
-
Jumlah unit organisasi yang ada akan disesuaikan dengan kebutuhan dari
organisasi tersebut.
-
Suatu unit organisasi ini harus mempunyai fungsi bulat dan berkaitan dengan
yang lainnya.
-
Pembentukan unit baru hanya dilaksanakan bilamana unit yang ada sudah tidak
tepat lagi
-
untuk menampung kegiatan yang baru baik dari beban kerja maupun hubungan
kerja.
-
Secara garis besar akan berpengaruh pada aktifitas dan sifat dari
organisasi tersebut..
C. Departementasi
Departementasi adalah aktivitas untuk menyusun satuan-satuan organisasi
yang akan diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu. Efesiensi kerja
tergantung kepada keberhasilan integrasi satuan-satuan yang bermacam-macam
dalam organisasi. Proses penentuan cara bagaimana kegiatan dikelompokkan
disebutkan departementasi.
1.
Departementasi Fungsional
Departementasi Fungsional adalah pengelompokan fungsi yang sama atau
kegiatan yang sejenis untuk membentuk satuan organisasi. Ini merupakan bentuk
organisasi yang paling umum dan bentuk dasar departementasi. Individu
dikelompokkan berdasarkan keterampilan, pengetahuan, dan tindakan yang
dilakukan. Misalnya organisasi hanya terbagi dalam bagian administrasi dan
bagian operasi. Pembentukan satuan-satuan organisasi yang masing masing
diserahi mengurus sekelompok aktivitas yang tergolong sejenis menurut sifatnya
atau pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan.
Kebaikan :
1.
Pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama.
2.
Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi.
3.
Memusatkan keahlian organisasi.
4.
Memungkinkan pengawasan manajemen puncak
5.
Tugasnya jelas
6.
Pengetahuan yang dibutuhkan tidak banyak
7.
Hanya membutuhkan manajer saja yang harus berwawasan luas
8.
Mudah dijelaskan pada anggota bila ada persoalan
Kelemahan :
1.
Menciptakan konflik antar fungsi.
2.
Adanya kemacetan pelaksanaan tugas.
3.
Umpan balik yang lambat.
4.
Memusatkan pada kepentingan tugasnya.
5.
Para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif
6.
Kejenuhan akibat monotonnya aktivitas
7.
Komunikasi antar area tidak lancar terutama bila ada problem
8.
Individu dalam bekerja hanya memperhatikan struktur hierarki
2.
Departementasi Divisional
Departementasi divisional adalah departementasi berdasarkan divisi melihat
produk, layanan, dan klien sebagai faktor dasar pengelompokan. Pola ini
digunakan untuk memudahkan usaha antisipasi ancaman atau oportuniti dari luar
organisasi. Misalnya pada organisasi otomotif, organisasi terbagi atas divisi
otomotif, divisi internasional, divisi keuangan.
Dengan membagi divisi-divisi atas dasar produk, wilayah, langganan, dan
proses, dimana tiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya
sendiri. Struktur organisasinya terdiri dari:
1.
Struktur
organisasi atas dasar produk
Setiap departementasi bertanggung jawab atas suatu produk yang berhubungan.
Struktur ini dipakai bila teknologi pemrosesan dan metode pemasaran sangat
berbeda.
2. Struktur organisasi atas dasar wilayah
Pengelompokan
kegiatan atas dasar tempat dimana operasi berlokasi atau menjalankan usahanya.
Faktor yang menjadi pertimbangan adalah bahan baku, tenaga kerja, pemasaran,
transportasi dan lain sebagainya.
3. Struktur organisasi atas dasar langganan
Pengelompokan
kegiatan yang dipusatkan pada penggunaan produk, terutama dalam kegiatan
pengelompokan penjualan, pelayanan.
4. Struktur organisasi atas dasar proses
Pengelompokan kegiatan atas dasar proses yang sering dijumpai dalam
departemen produksi. Kegiatan-kegiatan ini dapat dikelompokan menjadi
departemen pemboran, penggilingan, penggergajian, perakitan dan penyelesaian
terakhir. Ini digunakan atas dasar pertimbangan ekonomis.
5. Struktur organisasi atas dasar alphanumerical
Dapat
digunakan pada pelayanan telepon, misalnya nomor 000000500000 ditempatkan dalam
satu departemen dan lainnya di tempatkan di departemen yang lain juga.
Kebaikan :
1.
Semua
kegiatan, ketrampilan, keahlian untuk memproduksi dan memasarkan dikelompokan
menjadi satu dibawah seorang kepala.
2. Semua kegiatan mudah untuk dikoordinasidan prestasi kerja terpelihara.
3. Kualitas dan kecepatan membuat keputusan meningkat.
4. Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan lingkungan
divisi yang khas
5. Merumuskan tanggung – jawab dengan jelas dan perhatian dipusatkan
pertanggungjawaban atas prestasi kerja.
6. Membebaskan para kepala eksekutif dalam pembuatan keputusan strategi lebih
luas.
7. Cocok untuk lingkungan yang cepat berubah.
8.
Mempertahankan
spesialisasi fungsional dalam setiap divisi.
Kelemahan :
1.
Berkembangnya
persaingan disfungsional potensial atas sumber daya perusahaan dan konflik
antara tugas dan prioritas.
2. Seberapa besar delegasi wewenang diberikan.
3. Masalah kebijaksanaan dalam alokasi sumber daya dan distribusi biaya
overhead perusahaan.
4. Menimbulkan konsistensi kebijaksanaan antar divisi.
5. Masalah duplikasi sumber daya dan perlatan yang tidak perlu
6. Masing-masing divisi bisa menghadapi problem yang sama sehingga terjadi
pengulangan dalam pengatasannya
7. Target divisi bisa mengalahkan target organisasi
8.
Konflik
antar divisi bisa terjadi, bila terjadi problem organisasi, maka membutuhkan orang yang sangat ahli dan
menguasai banyak hal.
3.
Organisasi Proyek dan Matrik
Organisasi proyek dan matrik merupakan bentuk departementasi campuran
(hybrid design). Ini dilakukan dengan mengkombinasikan kebaikan-kebaikan dari
sistem fungsional dan divisional dengan menghindarkan segala kelemahannya.
Misalnya, organisasi selain dibagi menurut divisi, juga ditetapkan suatu
organisasi baru semacam proyek akan ditugasi khusus dengan orang-orang yang
berasal dari sejumlah divisi.
Struktur
Organisasi Proyek
Menyangkut pembentukan tim-tim, spesialis untuk mencapai tujuan khusus. Di
sini manajer proyek mempunyai wewenang lini memimpin para anggota tim selama
jangka waktu proyek, jika telah selesai maka tim dibubarkan dan masing-masing
anggota kembali ke departemennya masing-masing. Jika ada proyek baru maka
mereka ditarik kembali.
Struktur
Organisasi Matriks
Pada prinsipnya sama dengan sistem proyek, tapi disini para karyawan
mempunyai dua atasan, yang tentunya berada di dua wewenang. Rantai perintah
pertama yaitu fungsional, yang wewenangnya mengalir secara vertikal. Kedua
yaitu rantai perintah lateral atau horisontal, wewenangnya melintasi departemen
yang dilaksanakan oleh manajer proyek, sehingga menyerupai matrik dalam lalu
lintas aliran wewenang.
Kebaikan :
1.
Memaksimumkan
efisiensi penggunaan manajer fungsional.
2. Mengembangkan ketrampilan dan kreatifitas karyawan serta fleksibilitas
kepada organisasi.
3. Melibatkan motivasi dan menantang karyawan serta memperluas pandangan
manajemen terhadap masalah strategi perusahaan yang akhirnya membebaskan
manajemen puncak untuk perencanaan.
4. Menstimulasi kerja sama antar disiplin dan mempermudah kegiatan
perusahaan dan orientasi proyek.
5. Mampu mengombinasi kelebihan pola fungsional dan divisional
6. Menekankan pada teknik dan pasar
7.
Memerlukan
sejumlah manager yang mampu menangani personil bidang teknik dan
pemasaran
Kelemahan :
1.
Adanya
pertanggungjawaban ganda dan kebijaksanaan yang kontradiktif
2.
Memerlukan
koordinasi vertikal dan horisontal.
3.
Memerlukan
lebih banyak ketrampilan antar pribadi.
4.
Menimbulkan
resiko timbulnya perasaan anarki.
5.
Sangat mahal
untuk di implementasikan.
6.
Mendorong
pertentangan kekuasaan dan lebih mengarah perdebatan daripada kegiatan.
7.
Sangat mahal
8.
Kesatuan
komando bisa hilang karena individu memiliki lebih dari satu supervisor
silahkan klik link ini :
untuk download makalah organisasi dan pembagian kerja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar