BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap organisasi perlu melakukan
suatu perencanaan dalam setap kegiatan organisasinya, baik erencanaan produksi,
perencanaan rekrutmen karyawan baru, program penjualan produk baru, maupun
perencanaan anggarannya. Perencanaan (planning) merupakan proses dasar
bagi organisasi untuk memilih sasaran dan menetapkan bagaimana cara
mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan dan sasaran
yang hendak dicapai sebelum melakukan prosesproses perencanaan.
Perencanaan diperlukan dan terjadi
dalam berbagai bentuk organisasi, sebab perencanaan ini merupakan proses dasar
manajemen di dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan. Perencanaan
diperlukan dalam jenis kegiatan baik itu kegiatan oranisasi, perusahaan maupun
kegiatan di masyarakat, dan perencanaan ada dalam setiap fungsi-fungsi
manajemen, karena fungsi-fungsi tersebut hanya dapat melaksanakan
keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
Perencanaan merupakan tahapan paling
penting dari suatu fungsi manajemen, terutma dalam menghadapi lingkungan
eksternal yangberubah dinamis. Dalam era globalisasi ini,
perencanaan harus lebih mengandalkan prosedur yang rasional dan sistematis dan
bukan hanya pada intuisi dan firasat (dugaan).
Pokok
pembahasan pada makalah ini berfokus pada elemen-elemen tertentu dari proses
perencanaan dan proses yang sangat berhubungan dengan pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan. Kemudian memperkenalkan konsep perencanaan dan
menyajikan sejumlah pendekatan untuk mengefektifkan perencanaan dari berbagai
jenis.
Dalam
manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat
strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja
organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen
karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan
pengontrolan tak akan dapat berjalan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas
dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu:
- Apa pengertian perencanaan ?
- Apa saja macam-macam perencanaan ?
- Hambatan apa saja yang ada dalam perencanaan dan bagaimana cara mengatasinya ?
1.3 Tujuan
Sesuai dengan masalah yang dihadapi
maka makalah ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui pengertian perencanaan...!
2. Untuk mengetahui macam-macam
perencanaan...!
3. Untuk mengetahui apa saja hambatan
yang ada dalam perencanaan dan cara mengatasinya...!
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PROSES PERENCANAAN
A.
PENGERTIAN PERENCANAAN
Perencanaan adalah
proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan
itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan adalah
proses penentuan apa yang harus dilakukan oleh perusahaan dan bagaimana cara
terbaik untuk melakukan hal tersebut. Perencanaan merupakan proses terpenting
dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain;
pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan. Rencana
informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama
anggota suatu organisasi.
B. 4 TAHAP
DASAR PERENCANAAN
Semua kegiatan perencanaan pada dasarnya
melalui 4 tahapan berikut ini.
1.
Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan
Perencanaan
dimulai dengankeputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi
atau kelompok kerja.Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan
menggunakan sumber daya sumberdayanya secara tidak efektif.
2.
merumuskan keadaan saat ini
Pemahaman
akan posisi perusahaansekarang dari tujuan yang hendak di capai atau sumber
daya-sumber daya yang tersediauntuk pencapaian tujuan adalah sangat penting,
karena tujuan dan rencana menyangkutwaktu yang akan datang. Hanya setelah
keadaan perusahaan saat ini dianalisa, rencanadapat dirumuskan untuk
menggambarkan rencana kegiatan lebih lanjut. Tahap kedua inimemerlukan
informasi-terutama keuangan dan data statistik yang didapat melaluikomunikasi
dalam organisasi.
3.
mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
Segala
kekuatan dankelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan
untuk mengukurkemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu
diketahui faktor-faktor lingkungan intren dan ekstern yang dapat membantu
organisasi mencapai tujuannya,atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walau pun
sulit dilakukan, antisipasi keadaan,masalah, dan kesempatan serta ancaman yang
mungkin terjadi di waktu mendatang adalahbagian esensi dari proses perencanaan.
4.
mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk
pencapaiantujuan
Tahap
terakhir dalam proses perncanaan meliputi pengembangaan berbagai alternatif
kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif-alternatif tersebut
danpemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif
yang ada.
C. RENCANA
OPERASIONAL
Perencanaan operasional: kebutuhan apa
saja yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan perencanaan strategi untuk
mencapai tujuan strategi tersebut. Lingkup perencanaan ini lebih sempit
dibandingkan dengan perencanaan strategi.
Perencanaan
operasional yang khas :
- Perencanaan produksi (Production Plans) : Perencanaan yang berhubungan dengan metode dan teknologi yang dibutuhkan dalam pekerjaan
- Perencanaan keuangan (Financial Plans) : Perencanaan yang berhubungan dengan dana yang dibutuhkan untuk aktivitas operasional
- Perencanaan Fasilitas ( Facilites Plans) : Perencanaan yang berhubungan dengan fasilitas & layaout pekerjaan yang dibutuhkan untuk mendukung tugas.
- Perencanaan pemasaran (Marketing Plans) : Berhubungan dengan keperluan penjualan dan distribusi barang /jasa. perencanaan sumber daya manusia (Human Resource Plans): berhubungan dengan rekruitmen, penyeleksian dan penempatan orang-orang dalam berbagai pekerjaan
D.
PERENCANAAN STRATEGIK
Perencanaan strategik ( strategic
planning) adalah suatu perencanaan ke depan yang ditetapkan untuk dijadikan
pegangan, mulai dari tingkat korporet sampai pada tingkat unit bisnis ,produk
dan situasi pasar. Perencanaan strategi merupakan strategi induk dari manajemen
strategi yaitu visi , misi, tujuan strategi dan kebijakan.
Tujuan
Perencanaan Strategi :
·
Mengukur dan memanfaatkan kesempatan /peluang sehingga
mampu mencapai keberhasilan.
·
Membantu meringankan beban manajer dalam tugasnya
menyususn dan mengimplementasikan manajemen strategi.
·
Agar lebih terlebih terorganisasikan
aktivitas-aktivitas yang dilakukan.
·
Sebagai landasan untuk memonitor perubahan – perubahan
yang terjadi, sehingga dapat dilakukan penyusaian .
·
Sebagai cermin atau evaluasi perencanaan selanjutnya
sehingga bisa menjadi bahan penyempurnaan.
E. FAKTOR
WAKTU DAN PERENCANAAN
Faktor waktu
dan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perencanaan dalam tiga hal, yaitu:
1.
waktu sangat diperlukan untuk meaksanakan perencanaan
efektif
2. waktu sering
diperlukan untk melanjutkan setiap langkah perencanaan
tanpa
informasi lengkap tentang variable-variabel dan alternatif- alternatif, karena
waktu diperlukan untuk mendapatkan data dan memperhitungkan semua kemungkinan.
3. jumlah waktu
yang akan dicakup dalam rencana harus dipertimbangkan.
Faktor waktu
lainnya yang mempengaruhi perecanaan adalah seberapa sering rencana-rencana
harus ditinjau kembali dan diperbaiki. Ini tergantung pada sumber daya yang
tersedia dan derajat ketetapan perencanaan manajemen.
·
Rencana jangka pendek, menengah dan panjang
Rencana – rencana jangka pendek
mencakup berbagai rencana dari satu hari sampai satu tahun; rencana-rencana
jangka menengah mempunyai rentangan waktu antara beberapa bulan sampai tiga
tahun; dan rencana- rencana jangka panjang mengikuti kegiatan selama dua sampai
lima tahun, dengan beberapa rencana yang diproyeksikan dua puluh lima tahun
atau lebih dimasa yang akan datang. Perencanaan jangka panjang berkenaan dengan
perencanaan strategik.
2. PENETAPAN
TUJUAN
A. MISI dan
TUJUAN ORGANISASI
Tujuan
adalah suatu hasil akhir, titik akhir atau segala sesuatu yang akan dicapai Misi dan Tujuan Organisasi Sebelum
organisasi menentukan tujuannya, terlebih dulu menetapkan misi / maksud
organisasi.
Misi adalah
suatu pernyataan umum dan abadi tentang maksud organisasi. Sedangkan
Misiorganisasi adalah maksud khas (unik) dan mendasar yang membedakan
organisasi dariorganisasi-organisasi lainnya dan mengidentifikasikan ruang
lingkup operasi dalam hal produk dan pasar.
Etzioni
mendefinisikan tujuan organisasi sebagai :
1.
Suatu pernyataan tentang keadaan yang diinginkan
dimana organisasi bermaksud untuk merealisasikan2.
2.
Pernyataan tentang keadaan di waktu yang akan datang
di mana organisasi sebagaikolektifitas mencoba untuk menimbulkannya.
B. FUNGSI
TUJUAN
- Pedoman Bagi Kegiatan, melalui penggambaran hasil-hasil di waktu yang akan datang.Fungsi tujuan memberikan arah dan pemusatan kegiatan organisasi mengenai apa yangharus dan tidak harus dilakukan
- Sumber Legitimasi, akan meningkatkan kemampuan organisasi untuk mendapatkansumber daya dan dukungan dari lingkungan di sekitarnya
- Standar Pelaksanaan, bila tujuan dilaksanakan secara jelas dan dipahami, akanmemberikan standar langsung bagi penilaian pelaksanaan kegiatan (prestasi) organisasi
- Standar Motivasi, berfungsi sebagai motivasi dan identifikasi karyawan yang penting.Dalam kenyataannya, tujuan organisasi sering memberikan insentif bagi para anggota
- Dasar Rasional Pengorganisasian, tujuan organisasi merupakan suatu dasar perancanganorganisasi
C. MANAGEMEN
BY OBJECTIVE ( MBO )
Pertama kali
diperkenalkan oleh Peter Drucker dalam bukunya The Practice of Management pada
tahun 1954. Management by objective dapat juga disebut sebagai manajemen
berdasarkan sasaran, manajemen berdasarkan hasil (Management by Result), Goals
management, Work planning and review dan lain sebagainya yang pada intinya
sama.
Management
by objective menekankan pada pentingnya peranan tujuan dalam perencanaan yang
efektif, dengan menetapkan prosedur pencapaian baik yang formal maupun
informal, pertama dengan menetapkan tujuan yang akan dicapai dilanjutkan dengan
kegiatan yang akan dilaksanakan sampai selesai baru diadakan peninjauan kembali
atas pekerjaan yang telah dilakukan. Kegiatan MBO singkatan dari management by
objective yaitu proses partisipasi yang melibatkan bawahan dan para manajer
dalam setiap tingkatan organisasi yang dirumuskan dengan bentuk misi atau
sasaran, yang dapat diukur dimana penggunaan ukuran ini sebagai pedoman bagi
pengoperasian satuan kerja.
Sistem
Management By Objective Yang Efektif
- Adanya komitmen para manajer tujuan pribadi dan organisasi, sehingga dia harus berjumpa dengan bawahannya untuk memberikan penetapan tujuan dan menilainya.
- Penetapan tujuan manajemen puncak yang dinyatakan dalam nilai tertentu yang dapat diukur, sehingga antara manajer dan bawahan mempunyai gagasan yang jelas tentang apa yang diharapkan oleh manajemen puncak, sehingga dapat diketahui antara individu dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.
- Tujuan perseorangan, dimana antara manajer dan bawahan harus merumuskan tujuan bersama dan tanggung jawab terhadap bagiannya secara jelas guna memahami tentang apa yang akan dicapai.
- Perlunya partisipasi semua pihak, dimana semakin besar partisipasi dari semua anggota, maka semakin besar tujuan yang akan tercapai.
- Otonomi dan implementasi rencana, disini bawahan dan manajer bebas untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program-program pencapaian tujuannya.
- Peninjauan kembali prestasi yang dilakukan secara periodik terhadap kemajuan tujuan.
Kebaikan dan
Kelemahan MBO
Kebaikan :
- Mengetahui apa yang diharap-harapkan dari organisasi.
- Membantu manajer membuat tujuan dan sasaran.
- Memperbaiki komunikasi vertikal antara manajer dengan bawahan
- Membuat proses evaluasi.
Kelemahan :
- Kelemahan yang melekat pada proses MBO, dalam konsumsi waktu dan biaya yang besar.
- Dalam hal pengembangan dan implementasi program-program MBO.
Unsur-unsur
Efektivitas MBO
- Agar MBO sukses maka manajer harus memahami dan mempunyai trampilan secara mengetahui kemanfaatan dan kegunaan dari MBO.
- Tujuan merupakan hal yang realistis dan mudah dipahami oleh siapapun juga, sehingga tujuan ini sering digunakan untuk mengevaluasi prestasi kerja dari manajer, apakah dia berhasil dalam tugasnya atau gagal.
- Top manajer harus menjaga sistem MBO ini tetap hidup dan berfungsi sebagaimana mestinya.
- Tanpa partisipasi semua pihak tidaklah mungkin program MBO ini berjalan, maka semua pihak harus mengetahui posisinya dalam hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai, umpan balik terhadapnya sangat berguna.
3. PEMBUAT
KEPUTUSAN
A. TIPE-TIPE
KEPUTUSAN
Tipe-tipe
keputusan dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
Keputusan-keputusan yang di
program(programmed decisions) adalah satu keputusan yang dibuat menurut
kebiasaan, aturan dan prosedur.keputusan ini rutin dan dilakukan
berulang-ulang.
Keputusan-keputusan
yang tidak di program(non-programmed decisions)adalah suatu keputusan yang
berkenan dengan masalah-masalah khusus , khas dan tidak terbiasa.
Keputusan-keputusan
dengan kepastian , resiko dan ketidak pastian, dimana pembuatan keputusannya
untuk masa depan atau masa yang akan datang.
3 macam
keputusan-keputusan kepastian, resiko dan ketidak pastian.
- Dalam kondisi kepastian(certainly),bahwa menejer dapat mengetahui apa yang akan terjadi diwaktu yang akan datang sebab tersedia informasi yang akurat, terpecaya dan dapat diukur sebagai dasar keputusan.
- Dalam kondisi resiko/risk, bahwa manajer mengetahui besarnya probabilitas kemungkinan hasil ,tetapi informasi yang lengkap tidak tersedia.
- Kondisi ke tidak pastian (uncertainty),bahwa manajer tidak dapat mengetahui probabilitas dan tidak mengetahui hasil-hasil dan menyangkut keputusan kritis dan yang paling menarik.keputusan dapat diambil dengan menggunakan metode kuantitatif(perhitungan statistik) untuk mengantisipasidan memperkirakannya.
B. PROSES
PEMBUATAN KEPUTUSAN :
1.
Pemahaman dan perumusan masalah,bahwa setiap keputusan
harus dapt dipahami dengan perumusan masalah yang tepat dan akurat.
2. Pengumpulan
dan analisa yang relevan,bahwa setiap pengumpulan keputusan harus mempunyai
analisa yang relevan dan nyata dalam pengambilan keputusan.
3. Pengembangan
alternatif-alternatif ,bahwa setiap pengembangan keputusan-keputusan dalam
perumusan dan pengumpulan data harus dikembangkan secara alternatif-alternatif
suatu keputusan.
4. Evaluasi
alternatif-alternatif,bahwa setiap mengevaluasi suatu keputusan harus dengan
komposisi,data yamg lengkap dan seimbang.
5. Pemilihan
alternatif terbaik,bahwa setiap pemilihan suatu keputusan harus dengan
konsep-konsep data alternatif yang terbaik.
6. Implementasi
keputusan,bahwa setiap keputusan harus mempunyai perlengkapan yang matang dalam
mengambil suatu keputusan.
7.
Evaluasi hasil-hasil keputusan,bahwa setiap keputusan
harus mempunyai hasil-hasil yang akurat ,analisa yang tepat.yang nantinya dapat
di evaluasi dan di kembangkan kembali sehingga menjadi hasil yang memuaskan.
4.keterlibatan
bawahan dalam pembuatan keputusan
Para manejer
akan sulit untuk membuat keputusan tanpa melibatkan bawahan, keterlibatan ini
dapat formal, seperti pengunaan kelompok dalam pembuatan keputusan, atau
informal, seperti permintaan akan gagasan.
1. Pembuatan
Keputusan Kelompok
Banyak manajer merasa bahwa keputusan yang dibuat
secara kelompok, seperti panitia lebih efektif karena mereka memaksimumkan
pengetahuan lain. Berbagai kebaikan dan kelemahan pembuatan keputusan secara
kelompok
Kebaikan:
- Dalam pengembangan tujuan, kelompok memberikan jumlah pengetahhuan yang lebih besar.
- Dalam pengembangan alterna-tif, usaha individual para anggota kelompok dapat memungkinkan pencarian lebih luas dalam berbagai bidang fungsional organisasi.
- Dalam penilaian alternatif, kelompok mempunyai kerangka pandangan yang lebih lebar.
- Dalam pemilihan alternatif kelompok lebih dapat meneri-ma risiko disbanding pembuat keputusan individual.
- Karena berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan, para anggota kelompok secara individudal lebih termotivasi untuk melaksanakan keputus-an.
- Kreativitas yang lebih besar dihasilkan dari interaksi antar individu dengan berbagai pandangan yang berbeda- beda.
Kelemahan
- Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, harus diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab.
- Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya.
- Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat.
- Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok.
- Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelompoK
1.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan
keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang
pemimpin (manajer). Pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh
pengambilan keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan (decision).
Defenisi-defenisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli :
1. G. R.
Terry
Pengambilan
keputusan dapat didefenisikan sebagai “pemilihan alternatif kelakuan tertentu
dari dua atau lebih alternatif yang ada”.
2. Harold Koontz dan Cyril O’Donnel
Pengambilan
keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara
bertindak adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak
ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau
reputasi yang telah dibuat.
3. Theo Haiman
Inti dari
semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak.
Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang
dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan
untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah.
4. Drs. H. Malayu S.P Hasibuan
Pengambilan
keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah
alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.
5. Chester I. Barnard
Keputusan
adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran
proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertian
tingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk masalah. Secara umum pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk masalah. Secara umum pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada.
A.
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Teori
Rasional Komprehensif
Teori
pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima
oleh kalangan luas ialah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari
teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Pembuat
keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari
masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat
diperbandingkan satu sama lain.
2. Tujuan-tujuan,
nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan
dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kepentingannya
3. Berbagai
altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
4. Akibat-akibat
(biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif Yang diPilih
diteliti.
5. Setiap
alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,
dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.
dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.
6. Pembuat
keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang dapat memaksimasi
tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.
Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964′ 1959)’ Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.
Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964′ 1959)’ Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.
Lebih
lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas
antara nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat.
Asumsi penganjur model rasionar bahwa antara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat
dengan mudah dibedakan, bahkan dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan
sehari-hari. Akhirnya, masih ada masalah yang disebut ,,sunk_cost,,.
Keputusan-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan investasi terdahulu dalam
kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah
pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang
sudah ada.
Untuk
konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milne (1972), model
irasionar komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah:
informasi/data statistik tidak memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang
siap pakai untuk kondisi- kondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di
mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi
di negara sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok
unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.
2. Teori
Inkremental
Teori
inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan
keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti
daram teori rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori
yang lebih banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat
pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari. Pokok-pokok teori inkremental
ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pemilihan tujuan
atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya
dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal
yang saling terpisah.
2. Pembuat
keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung
berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang
berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan
yang ada sekarang.
3. Bagi tiap
altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan
dievaluasi.
4. Masalah yang
dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan
inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan
tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari
masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
5. Bahwa tidak
ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi
keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada
akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa
keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
6. Pembuatan
keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil
dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya
konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya
untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan
datang.
Keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara pelbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ” ambil semua atau tidak sama sekali.Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu Paham inkremental ini juga cukup rcalistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada
Keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara pelbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ” ambil semua atau tidak sama sekali.Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu Paham inkremental ini juga cukup rcalistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada
3. Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur
teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju
terhadap kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori
rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa
kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misalnya, keputusan-keputusan
yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inkremental akan lebih
mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang
kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya
dalam masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok
yang lemah dan yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya
praktis akan terabaikan.
Lebih lanjut
dengan memusatkan perhatiannya pada kepentingan/tujuan jangka pendek dan hanya
berusaha untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada sekarang, maka model inkremental cenderung
mengabaikan peluang bagi perlunya pembaruan sosial (social inovation) yang
mendasar.
Oleh karena
itu, menurut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam pembuatan keputusan
cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga
merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi
sarjana seperti Dror– yang pada dasamya merupakan salah seorang penganjur teori
rasional yang terkemuka — model inkremental ini justru dianggapnya merupakan
strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara sedang berkembang,
sebab di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah
memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besar-besaran.
Model
pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat
keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar
kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna
mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya
untuk melakukan scanning dan semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif
pengambilan keputusan ‘tersebul Dengan demikian, moder pengamatan terpadu ini
pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan
model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam proses pengambilan
keputusan
.
B.
KRITERIA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurut
konsepsi Anderson, nilai-nilai yang kemungkinan menjadi pedoman perilaku para
pembuat keputusan itu dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) kategori, yaitu:
1. Nilai-nilai Politik
1. Nilai-nilai Politik
Pembuat
keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang
dipilihnya dari sudut pentingnya altematif-altematil itu bagi partai politiknya
atau bagi kelompok-kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya.
Keputusan-keputusan yang lahir dari tangan para pembuat keputusan seperti ini
bukan mustahil dibuat demi keuntungan politik’ dan kebijaksanaan dengan
demikian akan dilihat sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh-pengaruh
politik atau untuk mencapai tujuan dan kepentingan dari partai politik atau
tujuan dari kelompok kepentingan yang bersangkutan.
2. Nilai-nilai organisasi
2. Nilai-nilai organisasi
Para pembuat
kepurusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil
keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di
dalamnya’ Organisasi, semisal badan-badan administrasi, menggunakan berbagai
bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya untuk memaksa para anggotanya
menerima, dan bertindak sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh
organisasi. Sepanjang nilai-nilai semacam itu ada, orang-orang yang bertindak
selaku pengambil keputusan dalam organisasi itu kemungkinan akan dipedomani
oleh pertimbangan-pertimbangan semacam itu sebagai perwujudan dari hasrat untuk
melihat organisasinya tetap lestari, unuk tetap maju atau untuk memperlancar
program-program dan kegiatan-kegiatannya atau atau untuk mempertahankan
kekuasaan dan hak-hak istimewa yang selama ini dinikmati.
3.
Nilai-nitai Pribadi
Hasrat untuk
melindungi atau memenuhi kesejateraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan
finansial’ reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakan- oleh
para pembuat teputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan. Para
politisi yang menerima uang sogok untuk membuat kepurusan tertentu yang
menguntungkan si pemberi uang sogok, misalnya sebagai hadiah pemberian perizinan
atau penandatanganan kontrak pembangunan proyek tertentu, jelas mempunyai
kepentingan pribadi dalam benaknya. Seorang presiden yang mengatakan di depan
para wartawan bahwa ia akan menggebut siapa saja yang bertindak
inkonstirusional, jelas juga dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan
pribadinya’misalnya agar ia mendapat tempat terhormat dalam sejarah bangsa
sebagai seseorang yang konsisten dan nasionalis.
4. Nilai-nilai Kebijaksanaan
4. Nilai-nilai Kebijaksanaan
Dari
perbincangan di atas, satu hal hendaklah dicamkan, yakni janganlah kita
mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian menarik kesimpulan bahwa para
pengambil keputusan politik inr semata-mata hanyalah dipengaruhi oleh
pertimbangan-penimbangan demi keuntungan politik, organisasi atau pribadi.
Sebab, para pembuat keputusan mungkin pula bertindak berdasarkan atas penepsi
mereka terhadap kepentingan umum atau keyakinan tertentu mengenai kebijaksanaan
negara apa yang sekiranya secara moral tepat dan benar. Seorang wakil rakyat
yang mempejuangkan undang-undang hak kebebasan sipil mungkin akan bertindak
sejalan dengan itu karena ia yakin bahwa tindakan itulah yang secara moral
benar, dan bahwa persamaan hak-hak sipil itu memang merupakan tujuan
kebijaksanaan negara yang diinginkan, tanpa mempedulikan bahwa perjuangan itu mungkin
akan menyebabkannya mengalami resiko-resiko politik yang fatal.
5. Nilai-nilai Ideologis
A. Ideologi
pada hakikatnya merupakan serangkaian nilai-nilai dan keyakinan yang secara
logis saling berkaitan yang mencerminkan gambaran sederhana mengenai dunia serta
berfungsi sebagai pedoman benindak bagi masyarakat yang meyakininya. Di
berbagai negara sedang berkembang di kawasan Asia, Afrika dan Timur Tengah
nasionalisme yang mencerminkan hasrat dari orang-orang atau bangsa yang
bersangkutan untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri — telah memberikan
peran penting dalam mewamai kebijaksanaan luar negeri maupun dalam negeri
mereka.
Pada masa
gerakan nasional menuju kemerdekaan, nasionalisme telah berfungsi sebagai
minyak bakar yang mengobarkan semangat perjuangan bangsa-bangsa di
negara-negara sedang berkembang melawan kekuatan kolonial.
Di Indonesia, ideologi Pancasila setidaknya bila dilihat dari sudut perilaku politik regim, telah berfungsi sebagai resep untuk melaksanakan perubahan sosial dan ekonomi. Bahkan ideologi ini kerapkali juga dipergunakan sebagai instrumen pengukur legitimasi bagi partisipasi politik atau partisipasi dalam kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat (Abdul Wahab, Solichin, 1987).
Di Indonesia, ideologi Pancasila setidaknya bila dilihat dari sudut perilaku politik regim, telah berfungsi sebagai resep untuk melaksanakan perubahan sosial dan ekonomi. Bahkan ideologi ini kerapkali juga dipergunakan sebagai instrumen pengukur legitimasi bagi partisipasi politik atau partisipasi dalam kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat (Abdul Wahab, Solichin, 1987).
C. FAKTOR -
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. Komposisi
kelompok. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun komposisi kelompok.
1. Penerimaan
tujuan umum; mempengaruhi kerjasama dan tukar informasi
2. Pembagian
(divisibilitas) tugas kelompok; tidak semua tugas dapat dibagi
3. Komunikasi
dan status struktur; biasanya yang osisinya tertinggi paling mendominasi dalam
kelompok.
4. Ukuran
kelompok; semakin besar kelompok semakin menyebar opini, konsekuensinya adalah
semakin lemah partisipasi individu dalam kelompok tersebut.
B.
Kesamaan anggota kelompok Keputusan kelompok akan
cepat dan mudah dibuat bila anggota kelompok sama satu dengan yang lain.
C.
Pengaruh (pengkutuban) polarisasi kelompok. Seringkali
keputusan yang dibuat kelompok lebih ekstrim dibandingkan keputusan individu.
Hal itu disebabkan karena adanya perbadingan sosial. Tidak semua orang berada
di atas rata-rata. Oleh karena itu untuk mengimbanginya perlu dibuat keputusan
yang jauh dari pendapat orang tersebut.
D.
PRINSIP DAN PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN
Pembuatan keputusan
mengenal berbagai prinsip dasar sehingga baik dalam tahapan perumusan maupun
implementasinya pembuatan keputusan tersebut memenuhi syarat sebagai alat
manajemen yang dapat memberikan panduan bagi anggota dalam bertindak dan
berprilaku. Adapun Prinsip-Prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Keputusan
pada dasarnya ditujukan untuk memecahkan masalah, karena itu setiap alternatif
solusi hendaknya tepat untuk masalah yang dituju.
2. Setiap
keputusan hendaknya merupakan alternatif terbaik dengan resiko yang amat
minial.
3. Keputusan
hendaknya sudah mempertimbangkan lingkup dan resiko secara sistematik dan
sistemik.
4. Keputusan
hendaknya tidak berada diluar zona of acceptance manusia.
5. Keputusan
yang efektif adalah keputusan yang dapat dilaksanakan.
6. Keputusan
hendaknya memecahkan masalah yang generik bukan masalah yang oprasional teknis.
7. Pembuatan
Keputusan terdiri dari tahap perumusan keputusan dan implementasi keputusan.
8. Pembuatan
keputusan hendaknya menghasilkan suatu hasil yang dapat diukur.
9. keputusan
tidak selalu harus dimulai dari data, tapi dari judgement.
Keseluruhan prinsip di atas dapat dijadikan dasar dalam setiap pembuatan keputusan. Dengan menerapkan prinsip tersebut pembuat keputusan dapat terhindar dari berbagai kesalahan dalam menggunakan pembuatan keputusan. Ini mengandung arti bahwa kekacauan manajemen yang acap kali disebabkan oleh pembuatan keputusan yang tidak didasarkan kepada prinsip yang tepat dapat dihindari. Proses pembuatan keputusan terdiri dari dua tahapan yaitu: tahapan perumusan keputusan dan tahapan implementasi keputusan. Setiap tahapan terdiri dari berbagai langkah atau kegiatan yang secara sistematik dan runtun perlu diikuti oleh setiap pembuat keputusan. Keseluruhan rincian tahapan dan kegiatan pembuatan keputusan tersebut tercantum di bawah ini.
Keseluruhan prinsip di atas dapat dijadikan dasar dalam setiap pembuatan keputusan. Dengan menerapkan prinsip tersebut pembuat keputusan dapat terhindar dari berbagai kesalahan dalam menggunakan pembuatan keputusan. Ini mengandung arti bahwa kekacauan manajemen yang acap kali disebabkan oleh pembuatan keputusan yang tidak didasarkan kepada prinsip yang tepat dapat dihindari. Proses pembuatan keputusan terdiri dari dua tahapan yaitu: tahapan perumusan keputusan dan tahapan implementasi keputusan. Setiap tahapan terdiri dari berbagai langkah atau kegiatan yang secara sistematik dan runtun perlu diikuti oleh setiap pembuat keputusan. Keseluruhan rincian tahapan dan kegiatan pembuatan keputusan tersebut tercantum di bawah ini.
A. Perumusan
Keputusan
1.
Identifikasi masalah
Keputusan
diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah. Langkah pertama yang harus
dilakukan oleh pembuat keputusan adalah masalah-masalah apa saja yang harus
diputuskan. Menurut Peter Drucker, seorang eksekutif yang efektif tidak membuat
keputusan untuk setiap masalah. Masalah yang harus mendapat perhatian adalah
masalah-masalah mendasar yang mempunyai dampak luas dan menyeluruh bagi anggota
dan bagi organisasi. Masalah-masalah ini disebut dengan “generic problems”.
Masalah biasa tidak perlu diputuskan oleh eksekutif, tapi cukup oleh pimpinan
tingkat yang lebih rendah berdasarkan aturan organisasi yang berlaku.
Identifikasi masalah generik ini tidak perlu ditunjang oleh data yang lengkap,
sebab bila data yang lengkap harus terkumpul dahulu, maka tidak akan ada suatu
keputusan. Keputusan dapat dimulai dari judgment rasional dari seorang pemimpin.
2. Perumusan tujuan
2. Perumusan tujuan
Tujuan
apakah yang harus dicapai melalui pemecahan suatu masalah? Asumsi dasar untuk
setiap keputusan adalah bahwa suatu keputusan dibuat oleh seorang pemimpin
untuk mencapai tujuan tertentu. Ini berarti tidak hanya masalah yang dipecahkan
saja yang perlu jelas, tapi juga tujuan yang akan dicapainya harus labih jelas
lagi. Kejelasan tujuan ini diperlukan sebagai pedoman untuk menentukan pilihan-pilihan
keputusan yang paling tepat untuk suatu masalah. Keberhasilan suatu keputusan
ditentukan oleh “apakah tujuan yang sudah ditetapkan itu akhirnya dapat dicapai
atau tidak”. Tujuan untuk masalah-masalah yang generik harus dirumuskan secara
umum dan mendasar, yang kemudian diterjemahkan kedalam tujuan-tijuan yang lebih
operasional yang disebut dengan objektif. Setiap objektif perlu pula dijabarkan
kedalam target-target baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Suatu
“decision tree” perlu dikembangkan sehingga jangkauan dampak dan lingkup suatu
keputusan dapat diketahui dengan jelas.
3. Identifikasi
Alternatif Solusi
Alternatif
solusi atau pemecahan untuk suatu masalah sangat penting karena setiap masalah
tidak mungkin dipecahkan hanya oleh suatu cara pemecahan saja.
Alternatif-alternatif ini diperlukan untuk sampai kepada pilihan keputusan yang
tepat dengan resiko yang sangat minimal. Identifikasi alternatif solusi ini
ditentukan oleh: latar belakang pendidikan, pengalaman hidup, tingkat kecerdasan,
kemampuan antisipatif, kemampuan berfikir kedepan, imaginasi, cita-cita,
kreativitas, dan kemampuan untuk melihat secara jeli setiap resiko dan dampak
serta peluang yang mungkin diciptakan oleh suatu alternatif keputusan tertentu.
4. Penentuan
Kriteria Pemilihan Alternatif Solusi
Kriteria
suatu alternatif pemecahan sangat sulit dikembangkan secara pasti, karena
sangat bergantung kepada kondisi dan visi pembuat dan pelaksana keputusan untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Namun demikian kriteria umum dapat
diungkap seperti dibawah ini:
a. Alternatif
solusi itu harus tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
b. Altertnatif
solusi itu harus jelas dampak, resiko dan peluang yang mungkin diciptakan
c. Alternatif
solusi itu harus feasible untuk dilaksanakan
d. Alternatif
solusi itu harus tidak bertentangan dengan nilai, etika, moral yang dipegang
oleh anggota organisasi dan oleh organisasi.
e. Alternatif
solusi itu harus membawa perubahan bagi organisasi menuju yang lebih baik dari
keadaan sekarang. Secara operasional akhirnya kriteria ini sangat ditentukan
oleh pembuat keputusan. Alternatif solusi yang dipilih mungkin mempunyai resiko
tinggi dan sulit dilaksanakan, tapi dapat membawa perubahan yang diinginkan.
Dalam manajemen acapkali ditemukan suatu alternatif solusi yang sangat mahal
yang harus diambil untuk suatu hasil yang mempunyai nilai sangat tinggi.
5. Penentuan Pilihan Alternatif Solusi (Keputusan)
Penentuan
pilihan solusi atau keputusan ini dalam tahapan pembuatan keputusan merupakan tahapan
yang sangat kritis dan sangat menentukan. Pembuat keputusan atas dasar semua
pilihan yang tersedia, dengan berbagai resiko, dampak dan peluang akhirnya
harus sampai pada suatu titik pilihan keputusan. Pilihan ini harus diambil
dengan kecermatan, kejelian, keberanian, tanggung jawab, dan komitmen yang
besar. Tanpa sikap-sikap seperti itu suatu keputusan tidak akan mempunyai makna
apa-apa. Sikap seperti inilah yang menciptakan berbagai dinamika dan perubahan
dalam suatu organisasi.
B.
Implentasi Keputusan
1.
Legalisasi Keputusan
Langkah ini
diperlukan dalam suatu proses pembuatan keputusan sebagai suatu cara untuk
memperoleh keabsahan dan komitmen serta dasar hokum dari suatu keputusan
sehingga seluruh anggota, unsur-unsur pimpinan dan seluruh jajaran organisasi
terikat untuk melaksanakan keputusan itu. Legalisasi ini diwujudkan berdasarkan
ketentuan yang diberlakukan dalam suatu organisasi.
2. Plan of
actions
Atas dasar
keputusan formal organisasi yang secara hukum memperoleh kekuatan, maka
rancangan oprasional atau plan of action dapat disusun. Plan of action mencakup
hal-hal sebagai berikut:
a. Objective
dan sasaran operasional
b. Penentuan
tugas dan tanggung jawab bagi setiap, personel yang terlibat
c. Mekanisme
organisasi dalam melaksanakan keputusan termasuk mekanisme pengawasan
d. Penentuan
sumber-sumber daya yang diperlukan untuk setiap kegiatan, termasuk sumber dana
e. Time-line
dari langkah awal hingga langkah review dan evaluasi
3.
Sosialisasi dan Komunikasi
Langkah ini
dipandang strategis untuk memasyarakatkan keputusan agar setiap orang memahami
dalam rangka memenangkan dukungan untuk upaya yang mengandung pembaharuan.
Tujuan yang perlu dicapai adalah support atau dukungan dari segenap anggota
atau masyarakat organisasi terhadap upaya yang akan dilaksanakan. Sosialisasi
dan komunikasi ini harus dirancang secara sistematik untuk menciptakan kondisi
dan suasana yang favourable. Kritikan dan resistansi harus diantisipasi dan
langkah-langkah penanggulangannya sudah harus disiapkan. Keseluruhan jalur
komunikasi organisasi dan media teknologi yang diperlukan harus dimobilisir
sedemikian rupa sehingga suasana yang favourable itu dapat diciptakan. Winning
the support dari masyarakat begitu penting untuk ikut mendorong terwujudnya
hasil yang diharapkan.
4. Action
Tahapan ini
merupakan titik tumpu untuk keberhasilan tahapan implementasi keputusan.
Tahapan action ini merupakan ”putting thing into practice”. Keseluruhan
persiapan termasuk mekanisme organisasi yang telah disusun dicoba untuk bekerja
melaksanakan keputusan yang telah diambil. Koordinasi, Komunikasi, dan kerja
sama adalah kunci dari kelancaran proses implementasi ini Dalam pelaksanaan
action ini ada beberapa hal yang kritis yaitu: organisasi, personnel, dan dana
dalam suatu interaksi manajemen. Unsur kemampuan pimpinan untuk menggerakan
rancangan adalah sangat penting. Pada awal action tentu akan ditemui berbagai
kesulitan, pada langkah awal inilah diperlukan kesiapan seluruh aparat
eksekutif untuk selalu siaga dalam menangani berbagai kesulitan yang muncul.
5. Pengawasan
Pengawasan
adalah salah satu unsur yang dapat dimanfaatkan untuk membantu kelancaran
implementasi. Pengawasan ini mencakup pemantauan atau monitoring, evaluasi dan
intervensi untuk meluruskan apa yang ditemui tidak sesuai dengan ketentuan dan
aturan yang telah ditentukan. Pengawasan ini dapat dilakukan oleh aparat yang
ditunjuk untuk itu, atau langsung oleh unsur pimpinan kepada bawahannya.
6. Review
dan evaluasi
Review
adalah kaji ulang setiap langkah dan tahapan yang telah dilaksanakan sedangkan
evaluasi adalah proses penilaian untuk mengetahui tingkat efisiensi dan
efektivitas manajemen dalam rangka melaksanakan keputusan. Kegiatan ini tidak
harus menunggu hingga keseluruhan langkah implementasi selesai, tapi dapat
dilaksanakan secara terjadwal dan kontinue dalam rintangan waktu yang telah
ditentukan. Dengan sistem review dan evaluasi seperti ini keseluruhan gambaran
proses implementasi dapat di ketahui tingkat kemajuannya, kesulitannya dan
hambatannya, karena itu langkah-langkah teknis untuk mengatasi semua persoalan
dapat disusun secara sistemik dan sistematik.
E. MODEL
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. Model
Pengambilan Keputusan dalam Keadaan Kepastian (Certainty).
Menggambarkan
bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) hanya mempunyai satu hasil (pay off
tunggal). Model ini disebut juga Model Kepastian/ Deterministik.
B. Model
Pengambilan Keputusan dalam kondisi Berisiko (Risk).
Menggambarkan
bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) mempunyai sejumlah kemungkinan
hasil dan masing-masing kemungkinan hasil probabilitasnya dapat diperhitungakan
atau dapat diketahui. Model Keputusan dengan Risiko ini disebut juga Model
Stokastik.
C. Model
Pengambilan Keputusan dengan Ketidakpastian (Uncertainty).
Menggambarkan
bahwa setiap rangkaian keputusan (kegiatan) mempunyai sejumlah kemungkinan
hasil dan masing-masing kemungkinan hasil probabilitasnya tidak dapat
diketahui/ditentukan. Model Keputusan dengan kondisi seperti ini adalah situasi
yang paling sulit untuk pengambilan keputusan. (Kondisi yang penuh
ketidakpastian ini relevan dengan apa yang dipelajari dalam Game Theory)
F. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU (INDIVIDUAL
DECISION MAKING)
Proses
pembuatan keputusan individu yang dihasilkan oleh manager dapat dibedakan
menjadi dua macam, pertama rational approach pendekatan ini menuntut manajer
untuk membuat keputusan dan kedua adalah bounded rationality perspective yang
menjelaskan bagaimana keputusan dibuat dibawah keterbatasan waktu dan sumber daya.
a. Rational
Approach
Merupakan
sebuah pendekatan rasional yang menekankan analisis permasalahan secara
sistematis yang diikuti dengan pemilihan alternatif serta implementasi
keputusan tersebut proses pembuatan keputusan secara individu. Pendekatan ini
merupakan model ideal bagaimana keputusan dibuat dan pada praktiknya pendekatan
ini tidak sepenuhnya dapat dicapai dalam dunia nyata. Menurut model ini
keputusan dibuat melalui 8 tahap, antara lain:
1) Monitor the
decision environment
Pada tahap
ini, manajer memonitor informasi yang mengindikasikan terjadinya penyimpangan
baik itu informasi yang bersifat internal maupun eksternal.
2) Define the
decision problem
Pada tahap
ini dilakukan identifikasi detail dari permasalahan yang terjadi.
3) Specify
decision objectives
Pada tahap
ini manajer menentukan apa yang ingin dicapai oleh keputusan yang akan dibuat.
4) Diagnose the
problem
Di tahap ini
manajer menelusuri lebih lanjut serta menganalisa apa yang menjadi sumber
permasalahan.
5) Develop
alternative solutions
Manajer
mengemukakan tidak hanya satu alternatif keputusan dalam menangani masalah.
6) Evaluate
alternatives
Pada tahap
ini teknik-teknik statistik atau pengalaman pribadi dapat digunakan untuk
mencari alternatif keputusan dengan tingkat keberhasilan tertinggi.
7) Choose the
best alternative
Pada tahap
ini kemampuan seorang manajer diuji untuk memutuskan alternatif keputusan mana
yang harus dipilih, sehingga ditahap ini akan dihasilkan alternatif keputusan
tunggal sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi.
a. Implement
the chosen alternative
Pada tahap
ini manager mulai menggunakan kemampuan persuasif dan administratif manjerial
yang dimilikinya. Manajer juga dituntut untuk memberikan arahan guna menjamin
keputusan yang diambil dilaksanakan dengan baik.
b. Bounded
Rationality Perspective
Pendekatan
proses pengambilan keputusan secara rasional sangat sulit dilakukan karena pada
kenyataannya manajer dalam dunia nyata dituntut untuk melakukan pengambilan
keputusan yang cepat, sehingga dalam pengambilan keputusan manajer akan
terbatasi oleh waktu, faktor internal dan eksternal serta sifat alamiah suatu
permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya suatu analisa
menyeluruh terhadap permasalahan tersebut. Hal ini menjadikan pengambilan
keputusan secara rasional menjadi terbatasi (bounded rationality perspective).
Pengambilan keputusan menggunakan pendekatan ini umumnya lebih menekankan pada
aspek intuisi, pengalaman dan penilaian (judgement) dibandingkan dengan langkah-langkah
logis. Intuisi tidak selalu bersifat irasional, karena intuisi didasarkan atas
pengalaman bertahun-tahun dari seorang manajer terhadap pekerjaannya yang telah
tersimpan di alam bawah sadarnya. Intuisi akan menghasilkan keberanian serta
firasat mengenai alternatif keputusan mana yang diperkirakan dapat memecahkan
permasalahan, sehingga intuisi akan mempersingkat waktu dalam pengambilan
keputusan.
G. PROSES PENGAMBILAN
KEPUTUSAN ORGANISASI
Pada level
organisasi keputusan yang dibuat umumnya tidak berasal dari satu manajer tapi
merupakan kombinasi keputusan yang melibatkan seluruh manajer pada suatu
organisasi. Berdasarkan penelitian terdapat 4 macam proses pengambilan
keputusan pada level organisasi, yaitu: Perspective Management science
approach, Carniege model, Incremental decision proses model, Garbage can model.
a. Management Science Approach
Pendekatan
manajemen pengetahuan dapat didefinisikan sebagai pendekatan rasional
pengambilan keputusan pada level organisasi. Pendekatan ini merupakan alat yang
baik dalam proses pengambilan keputusan organisasi, terutama jika permasalahan
yang terjadi dapat dianalisa serta variabel permasalahan dapat di identifikasi
serta terukur. Kelemahan model ini adalah tidak banyak permasalahan dengan data
kuantitatif yang memadai dan proses penyampaian tacit knowledge (pengetahuan
yang dimiliki setiap manajer) umumnya sukar dilakukan. Keputusan yang
dihasilkan menggunakan pendekatan ini dapat berupa kesimpulan kualitatif, kuantitatif
atau kombinasi keduanya.
b. Carnegie Model
1) Model ini
dapat digambarkan sebagai model bounded rationality perspective pada level
organisasi. Model ini menjelaskan pengambilan keputusan melalui beberapa
tahapan sebagai berikut:Adanya ketidakpastian karena terbatasnya informasi yang
dapat diperoleh manajer serta konflik kepentingan yang terjadi karena setiap
manajer memiliki tujuan, opini, nilai, serta pengalaman yang berbeda-beda akan
mendorong terjadinya koalisi antar manajer.
2) Koalisi akan
dibutuhkan selama proses pengambilan keputusan karena:
a) Ambiguitas
tujuan organisasi dan inkonsistensi tujuan dari departemen operasi.
b) Manajer
tidak memiliki waktu, sumber daya serta kapasitas mental untuk mengidentifikasi
setiap dimensi serta memproses seluruh informasi yang relevan dengan keputusan
yang akan dibuat.Terbentuknya koalisi antar manajer memungkin kan terjadinya
diskusi, interpretasi tujuan serta permasalahan, tukar pendapat, menentukan
prioritas masalah, serta dukungan secara sosial terhadap permasalahan beserta
solusinya.
3) Koalisi akan
mempermudah pencarian solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada.
4) Solusi yang
ada akan menghasilkan keputusan yang akan memberikan solusi memuaskan
(satisficing) dan bukan solusi optimal bagi organisasi. Hal ini terjadi karena
adanya problemistic search, yaitu kondisi dimana manajer terpaku pada
lingkungan koalisi yang terbentuk sehingga mereka hanya mengharapkan solusi
yang secepatnya dapat memecahkan masalah tanpa mempertimbangkan optimalisasi
organisasi.
Kelemahan model Carnegie antara lain, terkadang sulit untuk membangun koalisi yang solid, diskusi dalam tubuh koalisi biasanya memerlukan waktu lama untuk mencapai suatu kesepakatan dan keputusan yang dihasilkan biasanya hanya memberikan solusi satisficing, selain itu model ini juga menekankan pentingnya persetujuan politik (political bargaining) sehingga model Carnegie cocok digunakan dalam mengidentifikasi masalah yang terjadi di organisasi.
Kelemahan model Carnegie antara lain, terkadang sulit untuk membangun koalisi yang solid, diskusi dalam tubuh koalisi biasanya memerlukan waktu lama untuk mencapai suatu kesepakatan dan keputusan yang dihasilkan biasanya hanya memberikan solusi satisficing, selain itu model ini juga menekankan pentingnya persetujuan politik (political bargaining) sehingga model Carnegie cocok digunakan dalam mengidentifikasi masalah yang terjadi di organisasi.
c. Incremental Decision Process
Model
Model ini
pengambilan keputusan ini menyerupai dengan model pengambilan keputusan secara
Carnegie, yang menekankan lebih detail pada tahapan mulai dari identifikasi
masalah hingga solusinya, namun kurang menekankan pada faktor sosial dan
politik. Tahapan pengambilan keputusan dapat dijabarkan melalui 3 fase, yaitu
1) Identification Phase
Fase
identifikasi ini diawali dengan rekognisi, yaitu suatu keadaan dimana para
manajer menjadi sadar akan adanya masalah dan perlunya mengambil suatu
keputusan. Rekognisi pada umumnya distimulasi oleh adanya masalah yang
tercermin dari perubahan lingkungan eksternal organisasi sehingga terjadi
penurunan kinerja. Kemudian, setelah rekognisi manajer akan melalui langkah
selanjutnya, yakni diagnosis dimana terjadi pengumpulan informasi yang
dibutuhkan untuk menjelaskan masalah yang terjadi.
2) Development Phase
2) Development Phase
Pada fase
ini terbentuk beberapa solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang sebelumnya
telah teridentifikasi. Solusi ini terbentuk melalui dua cara, antara lain:
a)
Search
Pada cara ini dapat digunakan prosedur dalam mencari alternatif
keputusan.
b)
Design
Setelah itu dilakukan pemilihan desain solusi yang
diinginkan melalui proses trial-and-error.
c)
Selection Phase
Fase dimana
terjadi pemilihan solusi. Pemilihan solusi ini dilakukan melalui 3 cara,
pertama penilaian (judgement) dimana para pembuat keputusan melakukan penilaian
terhadap alternatif-alternatif solusi yang ada. Kedua, perundingan
(bargaining), perundingan akan terjadi jika pemilihan solusi melibatkan lebih
dari satu pembuat keputusan, diskusi dan perundingan ini akan berjalan hingga
terbentuk sebuah koalisi seperti yang dijelaskan pada model Carnegie diatas.
Ketiga, pemberian wewenang (authorization) pada tahap ini keputusan akan
disebarluaskan kepada setiap hirarki organisasi hingga level terbawah dari hirarki.
d. Garbage Can Model
Model ini merupakan
hasil evolusi dari Carnegie Model dan Incremental Decision Process Model.
Perbedaannya adalah, jika Carnegie dan Incremental Decision Process Model
memberikan informasi mengenai bagaimana keputusan tunggal terbentuk, maka
Garbage Can Model menggambarkan bagaimana alur setiap keputusan dibuat dalam
organisasi secara keseluruhan. Beberapa karakteristik mengenai model ini
adalah:
1) Organized
anarchy
Yaitu suatu
keadaan dimana terjadi tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi, sehingga
terjadi anarki organisasi dimana terjadi penyimpangan otoritas vertikal dari
hirarki serta keputusan birokratik. Anarki organisasi ditandai dengan adanya
perubahan yang cepat dan kolektif terhadap lingkungan birokrasi.
2) Streams of
events
Karakteristik
lain dari Garbage Can Model adalah proses pengambilan keputusan yang tidak
berurutan dimana seharusnya pengambilan keputusan seharusnya diawali dengan
adanya suatu masalah dan berakhir dengan ditemukannya solusi. Pengambilan
keputusan yang terjadi pada model ini mengikuti aliran sebagai berikut:
a)
ProblemsMasalah
muncul saat terjadi ketidakpuasan terhadap kinerja.
b)
Potential
solution Merupakan gagasan yang dikemukakan seorang karyawan yang tidak selalu
menduduki jabatan seorang manajer.
c)
Participants
Partisipan merupakan karyawan organisasi.
d)
Choice of
opportunities
Merupakan saat dimana organisasi memiliki peluang dan
harus membuat keputusan.
3) Consequences
Gargbage can
model memiliki 4 macam konsekuensi, antara lain:
a.
Solusi dapat
saja terbentuk meskipun organisasi tidak sedang mengalami masalah.
b.
Pilihan dapat
ditentukan meskipun terkadang tidak memecahkan permasalahan.
c.
Permasalahan
dapat berlarut-larut, karena partisipan terbiasa dengan masalah yang terjadi
dan menyerah untuk menyelesaikannya.
d)
d)
d.
Tidak semua
masalah dapat terpecahkan.
Garbage can model cocok untuk digunakan pada
pengambilan keputusan pada keadaaan problematik dengan informasi mengenai permasalahan
yang sangat minim.
silahkan klik link ini :
untuk download makalah perencanaan dan pengambilan keputusan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar